LOCUSonline, SURABAYA - Di tengah gegap gempita kurikulum internasional dan label “global standard” yang kerap jadi kebanggaan sekolah elite, pemerintah tampaknya tetap ingin memastikan satu hal, jangan sampai murid fasih berbahasa Inggris, tapi gagap saat diuji standar nasional. Di sinilah Tes Kemampuan Akademik (TKA) hadir semacam “alat cek realita” pendidikan.
Fenomena ini tampak di SD Intan Permata Hati, yang meski mengusung kurikulum Cambridge, tetap tunduk pada TKA sebagai alat ukur nasional. Kepala sekolah, Dewa Made, menegaskan bahwa global boleh, tapi standar negara tetap nomor satu.
“TKA tetap penting untuk melihat sejauh mana kemampuan siswa sesuai standar pemerintah,” ujarnya, seolah mengingatkan bahwa ijazah internasional belum tentu cukup untuk “lulus” di negeri sendiri.
Menariknya, para orang tua justru menyambut TKA dengan antusias. Bukan semata karena ingin anaknya pintar, tapi karena akhirnya ada “rapor objektif” yang bisa dibandingkan, tidak lagi sekadar percaya pada brosur sekolah atau presentasi marketing yang penuh janji manis.
Sementara itu, Atip Latipulhayat, yang turun langsung memantau pelaksanaan TKA, menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada seremoni belajar mengajar.
“TKA bukan sekadar tes, tapi evaluasi menyeluruh,” ujarnya. Pernyataan ini secara halus menyentil praktik lama seperti belajar berjalan, tapi evaluasi sering kali sekadar formalitas.
Dalam logika kebijakan, TKA bukan hanya menguji siswa, tetapi juga “menginterogasi” guru, metode pembelajaran, hingga fasilitas sekolah. Dengan kata lain, jika hasilnya kurang memuaskan, yang perlu introspeksi bukan hanya murid.
Tak berhenti di situ, konsep sekolah ideal juga kembali diingatkan melalui jargon ASRI, Aman, Sehat, Resik dan Indah. Sebuah pengingat sederhana bahwa pendidikan berkualitas bukan hanya soal kurikulum canggih, tapi juga lingkungan belajar yang manusiawi.
Dari sisi internal sekolah, perwakilan kurikulum, Fani, menyebut TKA sebagai bahan refleksi. Hasil tes menjadi “peta luka” yang menunjukkan bagian mana dari proses belajar yang perlu diperbaiki.
Ironisnya, di tengah upaya serius ini, realitas pendidikan nasional masih dihadapkan pada tantangan klasik yaitu kesenjangan kualitas, fasilitas yang belum merata, hingga kompetensi guru yang terus diuji zaman.
Namun setidaknya, melalui TKA, ada satu pesan yang ingin ditegaskan pemerintah: pendidikan tidak boleh sekadar terlihat hebat di permukaan, tapi harus benar-benar terukur dan bisa dipertanggungjawabkan.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan soal siapa yang paling “internasional”, melainkan siapa yang benar-benar mampu mencetak generasi yang kompeten, baik di dalam negeri maupun di panggung global.