opini

Hari Anak Nasional: Parade Seremoni di Atas Luka Seribu Bocah

Rabu, 23 Juli 2025 | 11:44 WIB
foto net




Lalu siapa pelaku sebenarnya? Siapa monster dalam lemari ini? Pusiknas menyebut 89,75 persen terlapor kejahatan terhadap anak justru adalah orang dewasa—mereka yang seharusnya menjadi pelindung, malah menjadi predator. Orang tua, guru, tetangga, tokoh masyarakat… barisan penjaga moral yang nyatanya menggerogoti anak-anak dalam senyap.





Dengan tema "Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045", Kementerian PPPA memperingati HAN lewat parade wacana dan simbolik panggung. Menteri PPPA, Arifah Choiri Fauzi, menyebut pola asuh dan penggunaan gawai sebagai biang kerok kekerasan. Gadget? Serius? Apakah orang dewasa bertindak bejat juga gara-gara Wi-Fi?





Masih dari podium seremoni, mereka mengusung Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik untuk Perlindungan Anak. Sebuah regulasi digital di atas luka yang sangat nyata. Data kriminal berseliweran, tetapi realitas masih diam-diam menampar anak-anak di rumah, sekolah, bahkan ruang publik.





Oh iya, semua ini tercatat rapi di bawah sistem Piknas layanan informasi kriminal milik Bareskrim yang katanya mendukung polisi menjadi PRESISI: Prediktif, Responsif, dan Transaparan… Berkeadilan. Kata kunci di akhir memang yang paling absurd. Karena keadilan, sejauh ini, masih belum tahu rumah siapa.





Sementara itu, ribuan anak terus menanggung trauma. Di ruang-ruang sempit yang luput dari kamera dan mikrofon seremoni, mereka tumbuh dalam ketakutan.





Dan negara masih sibuk bersolek, menyanyikan lagu anak-anak di podium yang lantainya berdarah. (Bhegin)


Halaman:

Terkini