Kamis, 4 Juni 2026

Revitalisasi Sekolah 2026: Saat Toilet Bocor Akhirnya Dianggap Bagian dari Masa Depan Bangsa

Photo Author
Bhegin, Locusonline.co
- Jumat, 15 Mei 2026 | 14:00 WIB
 Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti saat menyerahkan bantuan revitalisasi satuan pendidikan 2026 di Kota Batam, Kepulauan Riau, Selasa (12/5/2026). ((Foto: dok Kemendikdasmen))
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti saat menyerahkan bantuan revitalisasi satuan pendidikan 2026 di Kota Batam, Kepulauan Riau, Selasa (12/5/2026). ((Foto: dok Kemendikdasmen))

LOCUSonline, BATAM - Di tengah pidato panjang tentang mencerdaskan kehidupan bangsa, pemerintah akhirnya sampai pada penemuan paling mendasar, murid ternyata lebih mudah belajar jika sekolahnya tidak bocor, toiletnya layak, dan ruang kelasnya tidak dijejali tiga sif belajar. Penemuan itu disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti saat menyerahkan bantuan revitalisasi satuan pendidikan 2026 di Kota Batam, Kepulauan Riau, Selasa (12/5/2026).

Dalam kunjungannya ke SMA Negeri 1 Batam, Mendikdasmen menegaskan pembangunan infrastruktur pendidikan bukan sekadar proyek semen dan cat tembok demi kebutuhan seremoni tahunan. Menurutnya, pembangunan sekolah adalah upaya memuliakan murid, sebuah frasa yang terdengar puitis di tengah kenyataan masih banyak siswa belajar bergantian pagi, siang, bahkan nyaris malam demi berbagi ruang kelas.

Sebelum menghadiri seremoni utama, Abdul Mu’ti lebih dulu meninjau TK Pembina III Kota Batam dan SD Negeri 001 Sungai Beduk. Di TK Pembina III, ia melihat penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) serta rencana rehabilitasi toilet, sanitasi, dan penambahan ruang kelas baru untuk menampung sekitar 200 murid.

Baca Juga: Target Renovasi 70 Ribu Sekolah, Presiden Prabowo Tegaskan Komitmen Pemerintah Percepat perbaikan infrastruktur pendidikan

Sementara di SD Negeri 001 Sungai Beduk, realitas pendidikan tampil tanpa filter presentasi PowerPoint. Sekolah tersebut masih menerapkan tiga shift belajar akibat kekurangan ruang kelas. Pemerintah pun mendadak sadar bahwa konsep “deep learning” akan sulit diterapkan jika murid dan guru masih berebut jadwal duduk di kelas.

"Kalau sudah pagi-siang begitu, beberapa program kami mungkin tidak bisa berjalan dengan baik," ujar Abdul Mu’ti, sembari memastikan sekolah tersebut diusulkan mendapat tambahan ruang kelas baru.

Pemerintah pusat mengklaim telah mengalokasikan anggaran Rp14 triliun untuk revitalisasi 11.744 satuan pendidikan di seluruh Indonesia pada 2026. Prioritas diberikan kepada sekolah terdampak bencana, wilayah 3T, serta bangunan rusak berat. Meski demikian, publik tentu berharap dana jumbo itu tidak lagi berhenti sebagai angka fantastis di konferensi pers dan spanduk proyek.

Di atas kertas, program revitalisasi ini terdengar megah. Pemerintah juga membawa jargon ASRI, Aman, Sehat, Resik dan Indah untuk membangun budaya sekolah yang nyaman dan bebas perundungan. Sebuah ironi kecil mengingat sebagian sekolah selama ini bahkan belum berhasil memenuhi standar tidak bocor saat hujan.

Selain pembangunan fisik, Kemendikdasmen juga mempromosikan berbagai program lain, mulai dari peningkatan kapasitas guru lewat beasiswa Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), metode pembelajaran Deep Learning, hingga reformasi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) agar sekolah menjadi ruang pertemuan lintas latar belakang sosial.

Baca Juga: Razia Rambut SMKN 2 Garut Berujung Trauma, KPAI Ingatkan Sekolah: Disiplin Tanpa Empati Berisiko Melukai Martabat Siswa

Tak hanya itu, pemerintah juga memperluas Program Indonesia Pintar (PIP). Untuk pertama kalinya pada 2026, sebanyak 888 ribu murid TK akan menerima bantuan Rp450 ribu per tahun demi mendukung program wajib belajar 13 tahun. Pemerintah bahkan menggandeng Kementerian Desa agar minimal satu taman kanak-kanak tersedia di setiap desa.

Namun di balik parade program dan slogan, kritik publik tetap mengemuka: pendidikan Indonesia selama bertahun-tahun terlalu sibuk membahas kurikulum futuristik, sementara banyak sekolah masih berjuang dengan atap bocor, toilet rusak, dan kursi reyot. Revitalisasi yang kini digencarkan seolah menjadi pengakuan tak langsung bahwa fondasi pendidikan dasar memang lama dibiarkan compang-camping.

Abdul Mu’ti sendiri menutup kunjungannya dengan pesan normatif namun relevan: sekolah harus menjadi rumah kedua yang memuliakan semua anak tanpa diskriminasi.

"Kita harus memuliakan ilmu, memuliakan guru, dan yang paling utama adalah memuliakan murid-murid kita," katanya.

Pernyataan itu terdengar sederhana. Tetapi di negeri yang masih membuat anak belajar bergantian karena kekurangan ruang kelas, kalimat tersebut terasa seperti pengingat keras bahwa pendidikan berkualitas kadang memang dimulai dari hal paling dasar, tembok yang tidak retak dan toilet yang bisa dipakai.*****

Editor: Bhegin

Sumber: Kemendikbudasmen

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X