pendidikan

Mahasiswa RI Ini Bongkar Fakta Hidup di Iran: Nyaman dan Cuma Rp500 Ribu per Bulan

Minggu, 5 April 2026 | 15:15 WIB



Energi Murah, Mobilitas Mudah





Harga energi yang rendah berdampak langsung pada biaya transportasi. Di Iran, harga bensin bersubsidi hanya sekitar Rp2.000 hingga Rp3.000 per liter. Kondisi ini membuat tarif transportasi umum ikut terjangkau.





Di ibu kota Tehran, biaya sekali naik bus atau metro bahkan tidak jauh dari harga air mineral kemasan di Indonesia. Dengan ongkos yang murah, mahasiswa seperti Syahrul dapat beraktivitas tanpa harus mengkhawatirkan pengeluaran berlebih.





Tak hanya itu, stabilitas pasokan listrik juga menjadi nilai tambah. Ia mengaku jarang mengalami pemadaman listrik, meskipun penggunaan daya cukup tinggi.





Antara Stigma dan Realitas





Keputusan Syahrul untuk melanjutkan studi di Iran sempat dianggap “nekat” oleh sebagian orang. Namun, bagi dirinya, pilihan itu justru rasional. Selain biaya hidup yang rendah, Iran juga menawarkan kualitas pendidikan yang cukup baik, terutama di bidang teknik, kedokteran, dan studi keagamaan.





Pengalaman ini memperlihatkan adanya jarak antara persepsi global dan realitas di lapangan. Apa yang sering tampil di layar berita tidak selalu mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakatnya.





Meski demikian, ia tidak menampik bahwa risiko tetap ada. Situasi geopolitik Iran yang dinamis membuat kewaspadaan tetap diperlukan, terutama bagi warga negara asing. Pada beberapa momen, ketegangan regional bahkan sempat memicu evakuasi pelajar dari negara tertentu.





Namun di kota-kota besar seperti Tehran dan Isfahan, kehidupan sehari-hari relatif berjalan normal.





Belajar dari Realitas yang Berbeda





Bagi Syahrul, pengalaman tinggal di Iran bukan sekadar soal bertahan hidup dengan biaya minim. Lebih dari itu, ia belajar melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda—bahwa sebuah negara tidak bisa dinilai hanya dari satu narasi.

Halaman:

Tags

Terkini