Di Balik Stigma Iran: Hidup Murah dan Nyaman ala Mahasiswa Indonesia
[Locusonline.co] Rp500 ribu per bulan—angka yang terdengar nyaris mustahil untuk bertahan hidup di kota besar Indonesia. Namun bagi Syahrul Ramadan (29), mahasiswa asal Surabaya, itulah realitas yang ia jalani sehari-hari selama menempuh studi di Iran. Di tengah citra negara yang kerap dilabeli “mengerikan”, ia justru menemukan kehidupan yang sederhana, tenang, dan bersahabat bagi kantong pelajar.
Bayangan tentang Iran selama ini lekat dengan konflik geopolitik, ketegangan militer, dan relasi panas dengan Amerika Serikat. Apalagi, eskalasi situasi pada awal 2026 sempat kembali menguatkan persepsi tersebut. Namun bagi Syahrul, realitas yang ia hadapi jauh dari gambaran itu.
“Kalau tidak melihat langsung, mungkin saya juga akan berpikir sama,” ujarnya, merujuk pada stigma yang selama ini beredar.
Hidup Hemat, Bukan Sekadar Bertahan
Syahrul mengaku biaya hidup bulanannya berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp600 ribu. Angka itu mencakup kebutuhan pokok sehari-hari, transportasi, hingga utilitas dasar. Dibandingkan dengan Jakarta atau kota besar lain di Indonesia, jumlah tersebut hanya sepersekian kecil.
Rahasia di balik biaya hidup yang rendah itu terletak pada kebijakan subsidi besar-besaran yang diterapkan pemerintah Iran. Negara tersebut dikenal memiliki cadangan energi melimpah, yang kemudian disalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk harga murah untuk listrik, bahan bakar, hingga kebutuhan pangan.
Untuk listrik, misalnya, Syahrul menyebut tagihan bulanan nyaris tidak terasa. Dalam satu kontrakan yang dihuni beberapa orang, biaya listrik hanya berkisar belasan ribu rupiah untuk dua bulan pemakaian.
“Dibagi tiga orang, jatuhnya mungkin cuma Rp2 ribuan per bulan per orang,” katanya.