Kehadiran organisasi tersebut bertujuan mendampingi Cathlyn sekaligus menyampaikan pandangan terkait pentingnya proses seleksi yang transparan, akuntabel, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.
"Kami ingin mendukung terciptanya proses yang kondusif, menjunjung kebhinekaan, serta ikut mengawal isu-isu strategis yang berdampak luas bagi masyarakat," kata Erfan.
Meski ikut mengawal polemik yang berkembang, organisasi tersebut menegaskan tetap menghormati kewenangan panitia dan lembaga terkait dalam proses seleksi Paskibraka.
Baca Juga: Seleksi Paskibraka Nasional 2026 di Sulsel Diterpa Isu Diskriminasi, BPIP: Bendera Merah Putih Tidak Mengenal Jalur Khusus
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat INTI, Hardy Stefanus, mengungkapkan pihaknya telah berkoordinasi dengan pengurus daerah sejak awal polemik mencuat ke ruang publik.
Menurut Hardy, persoalan yang muncul tidak hanya menyangkut hasil seleksi semata, tetapi juga menyentuh prinsip kesetaraan kesempatan bagi seluruh anak bangsa.
"Sejak awal kami mendorong agar proses seleksi berjalan secara objektif, profesional, transparan, dan menjunjung nilai persatuan serta kesetaraan," ujar Hardy.
Ia menilai setiap peserta berhak mendapatkan proses seleksi yang terbuka sehingga tidak menimbulkan ruang spekulasi di tengah masyarakat.
Di sisi lain, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sulawesi Selatan, Bustanul Arifin, membantah kabar yang menyebut adanya pencoretan atau pergantian peserta dalam seleksi calon Paskibraka nasional.
Menurutnya, polemik tersebut muncul akibat kesalahpahaman terhadap mekanisme penetapan peserta.
"Informasi yang beredar di media sosial tidak sesuai dengan mekanisme seleksi yang sebenarnya. Kami memastikan seluruh proses berjalan transparan dan objektif," tegas Bustanul.
Ia menjelaskan bahwa panitia belum pernah mengumumkan secara resmi daftar tiga besar peserta sebelum keputusan final ditetapkan.
"Karena belum ada pengumuman resmi sebelumnya, maka istilah pergantian peserta tidak tepat digunakan," katanya.
Perdebatan mengenai seleksi Paskibraka mungkin masih akan bergulir di ruang publik dan forum resmi. Namun di balik polemik tersebut, muncul kisah lain yang tidak kalah menarik.
Saat sebagian orang sibuk memperdebatkan siapa yang berdiri di Istana pada 17 Agustus mendatang, dua siswi Makassar justru tengah dipersiapkan menatap gerbang pendidikan internasional. Kadang-kadang, jalan menuju masa depan memang tidak selalu melewati podium yang semula dituju.*****