pendidikan

Polemik Penutupan Prodi Demi Industri Picu Kritik "Jangan Didik Generasi untuk Masa Lalu" Kampus Bukan Pabrik Tenaga Kerja

Kamis, 4 Juni 2026 | 14:05 WIB
Gambar Ilustrasi (Generated by Gemini Ai)

LOCUSonline - Rencana penutupan sejumlah program studi (prodi) yang dianggap tidak sesuai kebutuhan ekonomi masa depan menuai kritik dari kalangan akademisi. Kebijakan yang dibungkus dengan narasi link and match antara pendidikan dan industri itu dinilai berisiko membuat perguruan tinggi kehilangan perannya sebagai pusat ilmu pengetahuan.

Ekonom dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Wisnu Setiadi Nugroho, menilai penyederhanaan arah pendidikan tinggi berdasarkan kebutuhan pasar semata dapat menjadi langkah yang keliru jika tidak melihat perubahan zaman secara menyeluruh.

"Menutup program studi karena dianggap tidak dibutuhkan industri terdengar masuk akal, sampai kita bertanya, sejak kapan pasar kerja menjadi penentu tunggal arah pendidikan tinggi?" ujar Wisnu dalam keterangannya, Rabu (3/6/2026).

Menurut Wisnu, pemerintah dan kampus perlu berhati-hati karena kebutuhan industri tidak selalu berjalan stabil. Perubahan teknologi yang cepat membuat keterampilan yang dianggap penting hari ini bisa saja kehilangan nilai dalam waktu singkat.

"Kalau kampus hanya berlari mengejar tren industri, bisa jadi yang dikejar bukan masa depan, tetapi bayangan dari kebutuhan yang segera berubah," katanya.

Ia menjelaskan, dunia kerja saat ini memang membutuhkan kemampuan teknis, tetapi kemampuan dasar seperti berpikir kritis, komunikasi, analisis dan pemecahan masalah justru menjadi modal yang lebih tahan lama.

Baca Juga: Gagal ke Istana, Dapat Tiket ke Luar Negeri: Polemik Paskibraka Makassar Berbuah Beasiswa Penuh untuk Dua Siswi Berprestasi

Wisnu menilai ironi muncul ketika sejumlah bidang ilmu dasar, humaniora dan sosial sering dianggap kurang bernilai karena tidak langsung menghasilkan pekerjaan tertentu. Padahal, bidang tersebut berperan dalam membangun kemampuan manusia membaca persoalan kompleks.

"Kompetensi seperti problem solving, komunikasi dan kerja sama tetap menjadi kemampuan utama yang dicari dunia kerja. Justru banyak diasah melalui ilmu yang selama ini sering dicap tidak populer," jelasnya.

Ia juga membantah anggapan bahwa hanya bidang sains dan teknologi yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Menurutnya, banyak pemimpin perusahaan besar dunia memiliki latar belakang pendidikan yang beragam, termasuk ilmu sosial dan humaniora.

Menurut Wisnu, keberhasilan seseorang dalam memimpin organisasi bukan hanya ditentukan kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan memahami manusia, mengambil keputusan, dan membaca perubahan.

"Pemimpin tidak lahir hanya dari ruang teknologi, tetapi dari kemampuan memahami dunia secara luas," ujarnya.

Wisnu mengingatkan, pendidikan tinggi memiliki fungsi lebih besar daripada sekadar mencetak tenaga kerja. Kampus juga menjadi ruang riset, kritik, inovasi, dan pembentukan masyarakat yang mampu menghadapi perubahan.

Ia menyebut, jika perguruan tinggi hanya diarahkan mengikuti kebutuhan pasar jangka pendek, maka Indonesia berisiko kehilangan ruang untuk melahirkan gagasan baru.

"Pendidikan tinggi bukan balai latihan kerja tambahan bagi industri. Menutup prodi hanya karena tidak sesuai selera pasar hari ini adalah keputusan yang bisa membuat kita terlambat membaca masa depan," tegasnya.

Halaman:

Tags

Terkini