LOCUSONLINE, BANDUNG - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat mengumumkan penurunan angka kemiskinan di Jawa Barat pada September 2024. Jumlah penduduk miskin di Jawa Barat tercatat 3,67 juta orang pada September 2024, turun sekitar 180.000 orang dari 3,85 juta orang pada Maret 2024. Penurunan ini setara dengan 0,38 persen.
Angka kemiskinan September 2024 ini menjadi yang terendah sejak Maret 2020 yang mencapai 7,88 persen. Namun, angka ini masih lebih tinggi dari angka kemiskinan September 2019 yang mencapai 6,82 persen.
Kepala BPS Provinsi Jawa Barat, Darwis Sitorus, saat konferensi pers di Aula Kantor BPS Provinsi Jawa Barat, Rabu (15/1/2025), menyatakan bahwa kondisi ekonomi makro yang cenderung positif menjadi faktor utama penurunan angka kemiskinan.
Inflasi yang terkendali dan pertumbuhan ekonomi pada triwulan III/2024 yang mencapai 2,59 persen dibandingkan dengan triwulan I/2024 menjadi indikator utama.
Indikator lainnya adalah tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Agustus 2024 yang menurun sebesar 0,16 persen dibandingkan dengan Februari 2024.
"Penurunan angka kemiskinan selain diakibatkan kondisi ekonomi makro yang membaik, juga adanya berbagai program bantuan untuk masyarakat dari pemerintah," ujar Darwis Sitorus.
Untuk mengukur garis kemiskinan (GK), BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan non-makanan, yang diukur dengan menggunakan garis kemiskinan.
"Garis kemiskinan September 2024 sebesar Rp535.509 per kapita per bulan, dan GK naik 2,19 persen dibandingkan Maret 2024. Komoditas makanan menyumbang 74,72 persen terhadap garis kemiskinan September 2024," jelas Darwis.
Komoditas makanan yang memberikan sumbangan terbesar terhadap garis kemiskinan di daerah perkotaan adalah beras (22,08 persen), rokok kretek filter (12,09 persen), dan daging ayam ras (5,36 persen). Sementara untuk non-makanan, perumahan (9,18 persen), bensin (3,70 persen), dan listrik (2,51 persen) menjadi penyumbang terbesar.
Di perdesaan, beras (25,52 persen), rokok kretek filter (8,79 persen), dan telur ayam ras (4,51 persen) menjadi komoditas makanan yang paling berpengaruh. Untuk non-makanan, perumahan (10,13 persen), bensin (3,09 persen), dan listrik (1,65 persen) menjadi penyumbang terbesar.
Berdasarkan status wilayah, kemiskinan perkotaan menurun 0,42 persen poin atau sebanyak 141.06 ribu orang. Di perdesaan, penurunan mencapai 0,22 persen poin atau sebanyak 39,26 ribu orang.
"Indeks Kedalaman kemiskinan turun dari 1,21 pada Maret 2024 menjadi 1,05 pada September 2024. Indeks P1 di perdesaan sebesar 1,44 lebih tinggi dibanding perkotaan yang sebesar 0,96. Sementara Indeks Keparahan Kemiskinan turun dari 0,29 pada Maret 2024 menjadi 0,24 pada September 2024," tambahnya.
BPS juga menginformasikan bahwa pada bulan September 2024, gini ratio di Jabar sebesar 0,428, yang termasuk kategori ketimpangan sedang. Gini ratio perkotaan sebesar 0,439 lebih tinggi dibandingkan perdesaan yang sebesar 0,327.
Menurut kriteria Bank Dunia, persentase pengeluaran pada kelompok penduduk 40 persen terbawah sebesar 16,48 persen, yang termasuk ketimpangan sedang.
Editor; Bhegin