LOCUSonline - Indonesia resmi memasuki babak baru dalam perjalanan demografinya. Setelah bertahun-tahun menikmati bonus penduduk usia produktif, kini negeri ini mulai menghadapi realitas yang tak kalah menantang dimana jumlah warga lanjut usia (lansia) terus bertambah dan menembus ambang batas masyarakat menua atau aging population.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 mencatat proporsi lansia Indonesia mencapai 11,97 persen dari total populasi. Angka tersebut melampaui batas internasional 10 persen yang menjadi indikator sebuah negara memasuki fase penuaan penduduk.
Di balik statistik yang tampak sederhana itu, tersimpan alarm sosial yang mulai berdentang. Sebab, ketika jumlah lansia meningkat, beban ekonomi keluarga produktif ikut membesar, terutama bagi kelompok yang dikenal sebagai generasi sandwich mereka yang harus membiayai anak sekaligus menopang orangtua yang memasuki usia senja.
Bonus Demografi Belum Habis, Tapi Alarm Sudah Berbunyi
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan perubahan struktur penduduk terjadi seiring melambatnya angka kelahiran dan meningkatnya harapan hidup masyarakat.
"Saat ini Indonesia sudah memiliki proporsi penduduk lansia sebesar 11,97 persen. Kondisi ini tentunya menandakan aging population," ujar Amalia dalam konferensi pers awal Mei 2026.
SUPAS 2025 juga menunjukkan tingkat fertilitas nasional turun menjadi 2,13 anak per perempuan, mendekati angka pengganti populasi (replacement level). Sementara kelompok usia produktif masih mendominasi dengan porsi 68,98 persen.
Namun kondisi tersebut ibarat mobil yang masih melaju kencang, tetapi indikator bahan bakarnya mulai berkedip. Bonus demografi memang masih berlangsung, tetapi struktur penduduk perlahan berubah menuju masyarakat yang semakin tua.
Baca Juga: Ombudsman Sentil PLN: Listrik Pulih di Konferensi Pers, Padam di Lapangan Blackout Lagi Deh...
Ketika Anak Menanggung Anak dan Orangtua Sekaligus
Fenomena yang paling terdampak dari perubahan ini adalah generasi sandwich. Mereka berada di posisi yang tidak nyaman menjadi tulang punggung bagi dua generasi dalam waktu bersamaan.
Saat biaya pendidikan anak terus meningkat, kebutuhan kesehatan orangtua juga ikut membengkak. Akibatnya, banyak pekerja usia produktif harus membagi pendapatan ke berbagai pos pengeluaran tanpa sempat memikirkan masa depan mereka sendiri.
Secara satir, generasi ini seolah dipaksa menjadi kementerian keuangan keluarga yang anggarannya selalu defisit tetapi dituntut tetap berjalan.
Tekanan tersebut tidak hanya berbentuk biaya hidup sehari-hari. Banyak keluarga harus menanggung pengobatan, perawatan jangka panjang, hingga kebutuhan pendampingan lansia yang semakin kompleks.
Tak sedikit pula yang akhirnya menunda rencana pensiun, mengurangi investasi, bahkan mengorbankan dana darurat demi menjaga keseimbangan ekonomi keluarga.
Artikel Terkait
Dinas Pertanian & PUPR Garut 'Tumbal' atau Dalang? Pelapor Siapkan Ratusan Masa Datangi Polres Garut Dikasus Izin Lahan PT Pratama Abadi Industri
Pabrik PT Pratama Abadi Industri Berdiri di Atas Lahan Terlarang?, Pelapor : “Bukan Izin Tapi Cuma Restu!”
Pontianak Jadi Panggung Voli Asia: Kalbar Mau Naik Kelas, Bukan Cuma Penonton Turnamen
Tikus Bawa Virus: Soetta Perketat Pengawasan Virus Hanta dari Penumpang Internasional
AFC Hukum Persib Rp3,5 Miliar: Flare Menyala, Dompet Klub Ikut Terbakar
Pendaftaran Mitra Sensus Ekonomi 2026 BPS Dikeluhkan: Website Lemot, Captcha Galak, Email Aktivasi Menghilang Misterius
Kemenag Tetapkan Idul Adha 2026 Jatuh 27 Mei, Hilal Akhirnya “Absen Drama” dan Tampil Sesuai Jadwal
Cara Cek MBG Apa Makanannya Masih Layak Dimakan? Melalui Aplikasi Reviu Menu MBG
Konvoi Juara Persib 2026 Tinggalkan “Piala” Sampah, Bandung Panen Botol dan Bekas Flare
Ombudsman Sentil PLN: Listrik Pulih di Konferensi Pers, Padam di Lapangan Blackout Lagi Deh...