LOCUSONLINE, GARUT - Garut Edufarm Center Strategi Regenerasi Petani Muda: Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Garut, Jawa Barat, terus berupaya menggelorakan program Garut Edufarm Center (GEC) sebagai langkah strategis meregenerasi petani dengan memberikan edukasi agar anak muda berminat terjun ke sektor pertanian. Kamis, 27 Februari 2025
"Program khusus dalam mendorong minat petani muda terhadap sektor pertanian yaitu pengenalan pertanian sejak dini kepada para pelajar mulai dari tingkat TK sampai dengan perguruan tinggi melalui program Garut Edufarm Center," kata Kepala Dispertan Kabupaten Garut, Haeruman.
Dispertan Garut terus mendorong minat generasi muda terhadap sektor pertanian dengan berbagai kegiatan menarik dan memfasilitasinya, seperti menerapkan sistem pertanian modern berbasis Internet of Things (IoT) dan membuka aksesibilitas permodalan dengan berbagai perbankan. Pemerintah daerah juga melakukan pengembangan infrastruktur pertanian yang dapat meningkatkan efisiensi usaha tani, serta penguatan kelembagaan petani.
"Penguatan kelembagaan petani melalui pembinaan kelompok tani yang lebih dinamis dan adaptif terhadap perkembangan zaman, dan peningkatan akses pendidikan dan pelatihan bagi petani muda dengan berbagai metode penyuluhan," kata Haeruman.
Dispertan Garut juga berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk membentuk petani muda. Pada 2024, tercatat 1.599 orang petani milenial di Garut, terbagi untuk kelompok komoditas tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikanan.
Haeruman berharap di 2025 jumlah petani milenial dapat bertambah, sehingga bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan produktivitas pangan. "Insya Allah mudah-mudahan bertambah, dan kita terus berupaya," katanya.
Muhamad Ridwan (28), petani muda dan pengelola agrowisata Eptilu di Kecamatan Cikajang, Garut, mengatakan bahwa sektor usaha pertanian sudah seharusnya mendapatkan perhatian anak muda, apalagi Garut memiliki potensi sumber daya alam yang memadai. Produk pertanian di Garut sudah cukup banyak diterima di pasaran lokal, maupun kota besar lainnya di Jakarta dan sekitarnya, bahkan penjualannya ada yang sampai ke luar Jawa.
Namun, kendala dalam bisnis pertanian tidak hanya faktor cuaca atau hama, melainkan terkait harga jual beberapa komoditas pertanian yang tidak tetap. Ketika harga di pasaran anjlok, seperti cabai, tomat, dan jenis sayuran lainnya, petani akan mengalami kerugian.
Ridwan berharap pemerintah bisa menetapkan kebijakan stabilitas harga minimum produk komoditas pangan agar petani tidak rugi akibat harga jual di pasaran anjlok jauh dari biaya tanam yang dikeluarkan petani.
"Untuk solusinya agar petani tidak rugi, maka pemerintah perlu ada kebijakan ketetapan stabilitas harga minimum, sehingga ada kepastian bagi petani," katanya.
Editor: Bhegin