ragam

Dilema Hutan Kota, Menjaga Kelestarian dan Mengelola Sampah di Babakan Siliwangi

Senin, 24 Maret 2025 | 23:45 WIB

LOCUSONLINE, BANDUNG - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung dihadapkan pada dilema menjaga kelestarian Hutan Kota Babakan Siliwangi (Baksil) sekaligus mencari solusi terbaik terkait keberadaan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di kawasan tersebut.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, dalam kunjungannya ke Baksil pada Senin, 24 Maret 2025, menegaskan komitmen Pemkot untuk menjaga kelestarian Baksil sambil mencari solusi jangka panjang terkait keberadaan TPST. Kunjungan ini dilakukan setelah mendapat masukan dari para seniman dan budayawan yang merasa keberatan terhadap keberadaan TPST di kawasan tersebut.

Para seniman dan budayawan memandang TPST sebagai ancaman bagi fungsi Baksil sebagai ruang berkesenian dan konservasi alam. Wali Kota Farhan memahami kegelisahan mereka dan menekankan pentingnya mencapai pemahaman bersama untuk menemukan solusi terbaik.

"Sebagai pengelola kota, saya harus membaca dan menangkap kegelisahan masyarakat," ujar Wali Kota Farhan. "Para seniman melihat Baksil sebagai rumah berkarya, berekspresi, dan berkontemplasi. Maka, ketika ada TPST yang dianggap mengganggu, tentu ini menjadi perhatian kami."

Farhan menekankan bahwa solusi jangka panjang akan dicarikan agar keberadaan TPST tidak bertentangan dengan fungsi hutan kota. Ia mendorong inovasi pengelolaan sampah yang lebih berbudaya dan estetis, tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.

Seniman Tisna Sanjaya mengungkapkan keresahannya terhadap dampak TPST yang dianggap merusak estetika dan mereduksi fungsi Baksil sebagai warisan budaya dan sejarah Sunda. Ia berharap sampah dapat ditempatkan di lokasi yang lebih sesuai.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, Dudi Prayudi menjelaskan bahwa TPST Babakan Siliwangi saat ini mampu mengolah sekitar 5 ton sampah per hari, sebagian diolah menjadi Refuse-Derived Fuel (RDF) untuk industri tekstil.

Namun, kapasitas tersebut masih jauh dari cukup untuk mengatasi produksi sampah kota yang mencapai 1.000 ton per hari. Tantangan semakin besar menjelang Lebaran, dimana volume sampah cenderung meningkat signifikan.

Dudi Prayudi mengakui keterbatasan TPST dan TPA dalam menampung seluruh sampah kota Bandung. Ia menekankan perlunya solusi alternatif agar sampah tidak menumpuk dan menciptakan dampak lingkungan yang lebih buruk.

Pemkot Bandung saat ini memiliki lima TPST yang beroperasi di berbagai lokasi, termasuk Babakan Siliwangi. Penutupan TPST secara langsung sulit dilakukan mengingat perannya yang krusial dalam pengelolaan sampah kota. Namun, Pemkot berkomitmen untuk mencari solusi yang lebih baik, baik dalam hal lokasi maupun teknologi pengolahan sampahnya.

Dilema ini menunjukkan kompleksitas masalah pengelolaan sampah di kota besar seperti Bandung. Dibutuhkan kolaborasi dan dialog intensif antara pemerintah, seniman, budayawan, dan masyarakat untuk menemukan solusi terbaik yang menyeimbangkan kebutuhan kota dengan kelestarian lingkungan dan warisan budaya.

Tags

Terkini