ragam

BMKG Waspada Usai Lebaran : La Nina Berakhir, Musim Kemarau di Indonesia Dimulai Bertahap

Selasa, 1 April 2025 | 09:18 WIB
locustoons

LOCUSONLINE, JAKARTA – BMKG Waspada Usai Lebaran: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan berakhirnya anomali iklim La Nina di Indonesia. Berdasarkan pemantauan indeks IOD dan ENSO pada Dasarian I Maret 2025, kedua indeks menunjukkan kondisi netral dan diperkirakan akan berlanjut hingga semester kedua tahun 2025. Selasa, 1 april 2025

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menyatakan bahwa berakhirnya La Nina mengindikasikan musim kemarau akan berlangsung normal.

"Dengan berakhirnya La Nina itu mengindikasikan musim kemarau akan berlangsung normal," ungkapnya

Musim kemarau diprediksi akan dimulai secara bertahap, mulai Maret hingga April 2025. Beberapa wilayah akan terdampak lebih awal, termasuk Lampung bagian timur, pesisir utara Jawa Barat, pesisir Jawa Timur, sebagian Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur pada April.

"Sementara pada Mei, kemarau diperkirakan meluas ke sebagian Sumatra, sebagian besar Jawa Tengah dan Jawa Timur, sebagian Kalimantan Selatan, Bali, dan Papua bagian selatan," jelas Dwikortia.

Baca Juga : Festival Dulag di Purwakarta Meriahkan Malam Takbiran, Gabungkan Budaya dan Religi



BMKG mengimbau masyarakat untuk melakukan antisipasi. Sektor pertanian disarankan menyesuaikan jadwal tanam, memilih varietas tahan kekeringan, dan mengoptimalkan pengelolaan air. Wilayah dengan potensi musim kemarau lebih basah dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan produksi pertanian.

"Sementara itu, kesiapsiagaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) perlu ditingkatkan, terutama di wilayah rawan yang diprediksi mengalami musim kemarau dengan curah hujan normal atau di bawah normal," imbaunya.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa musim kemarau tahun ini diprediksi normal tanpa pengaruh kuat dari ENSO dan IOD. Meskipun demikian, beberapa wilayah berpotensi mengalami musim kemarau lebih basah dari biasanya.

"Kondisi ini diperkirakan mirip dengan musim kemarau tahun 2024, berbeda dengan kondisi kering tahun 2023 yang menyebabkan banyak kebakaran hutan," ujar Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan.

Editor: Bhegin

Tags

Terkini