ragam

Warga Singajaya Was-was dan Menanti Kepastian Relokasi Setelah Pergerakan Tanah Semakin Meluas

Kamis, 10 April 2025 | 10:39 WIB
BPBD Kabupaten Garut melakukan pemeriksaan di lokasi terdampak pergerakan tanah di Kampung Sawahjoho, Desa Singajaya, Kecamatan Singajaya. (Foto: Ciremaitoday.com/Akung)

LOCUSONLINE, GARUT - Warga Singajaya Was-was dan Menanti Kepastian: Fenomena pergerakan tanah di Kampung Sawahjoho, Desa Singajaya, Kecamatan Singajaya, Kabupaten Garut, semakin meluas dan membuat warga was-was. Kamis, 10 April 2025

Sepekan setelah Lebaran Idul Fitri 1446H/2025, ratusan warga dari 49 keluarga terpaksa mengungsi akibat pergeseran tanah yang mengancam keselamatan mereka.

"Kami mulai memikirkan bagaimana jika tanggap darurat selesai, pengungsian mau ke mana," ujar Sekdes Desa Singajaya Saiful Subhan.

Puluhan rumah mengalami kerusakan dan puluhan tempat tinggal lainnya terancam tidak dapat ditempati lagi.

"Tanggap darurat sudah ditetapkan dua pekan oleh Pemda Garut, kami juga berupaya untuk menyiapkan rumah sementara sambil menunggu proses relokasi," papar Saiful Subhan.

Warga mengungkapkan kecemasan mereka terhadap pergeseran tanah yang terjadi setiap saat.

"Lokasi tersebut sudah tidak layak ditempati," ujar Saiful Subhan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut telah mencatat sebanyak 49 keluarga yang terdampak musibah ini, dengan rincian 20 rumah terdampak langsung dan 29 rumah lainnya terancam.

"Jadi yang terdampak itu memang sudah tidak layak untuk di tempati dan yang terancam kemungkinan kedepannya bisa terjadi gerakan tanah susulan," ujar Nasheer, petugas BPBD Garut.

BPBD terus melakukan pemantauan dan mencari solusi untuk mengatasi permasalahan ini.

"Jadi supaya lebih tepatnya berapa yang benar-benar terancam gerakan tanah," kata dia.

BPBD juga telah mencari lahan untuk relokasi warga terdampak, yakni di Kampung Baru Tugu, Cidahu, dan Nyangkewok, depan SMP 1 Singajaya.

"Kedepanya pemukiman yang terdampak dan terancam bisa direlokasi ataupun dilakukan upaya mitigasi struktural," ujar dia.

Hasil analisa sementara menunjukkan bahwa kemiringan lereng di wilayah tersebut berkisar antara 18 hingga 35 derajat, termasuk dalam kategori lereng curam hingga sangat curam.

"Itu termasuk lereng agak curam sampai sangat curam," ujar Nasheer.

Faktor lain yang mempengaruhi adalah tingginya curah hujan di kawasan tersebut, yang menyebabkan tanah menjadi jenuh air.

"Tanah disana berasal dari hasil pelapukan batuan vulkanik berupa tuf dan breksi tuf yang sifatnya dapat menampung dan mengalirkan air. Sedangkan dibawahnya terdapat lapisan yang kedap air. Apabila tanah tersebut jenuh air maka kekuatan geser tanah berkurang sehingga terjadi pergeseran tanah," tandasnya.

Warga terdampak masih menunggu kejelasan penanganan lebih lanjut dari pihak berwenang, terutama mengenai relokasi. Mereka berharap agar pemerintah dapat memberikan solusi yang tepat dan cepat untuk mengatasi permasalahan ini.

Editor: Bhegin

Tags

Terkini