ragam

Demonstrasi Buruh Tuntut Keadilan dan Reformasi Ketenagakerjaan

Jumat, 2 Mei 2025 | 06:43 WIB
Foto : salah satu peserta aksi demo buruh membawa poster dengan tulisan

LOCUSONLINE, JAKARTA – Suasana ibukota pada 1 Mei 2025 dipenuhi oleh gelombang massa buruh yang berunjuk rasa dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional. Ribuan pekerja dari berbagai daerah di Indonesia memadati sejumlah titik pusat kota Jakarta, seperti kawasan Monumen Nasional, Bundaran HI, dan Istana Negara, dalam aksi damai yang mengusung semangat solidaritas serta tuntutan reformasi sistem ketenagakerjaan nasional.

https://www.youtube.com/watch?v=vOSOUuL37UQ&t=41s

Para buruh dengan memakai seragam serikat, membawa spanduk berisi slogan perlawanan, dan mengibarkan bendera organisasi masing-masing, para buruh menyuarakan aspirasi yang selama ini mereka nilai belum mendapatkan tanggapan serius dari pemangku kebijakan. Aksi ini tidak hanya berlangsung di Jakarta, tetapi juga secara serentak di kota-kota industri seperti Surabaya, Medan, Bandung, Batam, dan Makassar.
Baca juga :

Dedi Mulyadi Garang Di Bogor, Lembek Di Garut? “Hibisc Fantasy Puncak Dibongkar, 2,3 Hektar Lebih Lahan Pertanian Dialihfungsikan PT. Pratama Abadi Industri?”

Alih Fungsi Lahan PT. Pratama Abadi Industri, Dinas PUPR : 7 Titik Koordinat Masuk Area Pabrik, Ada Lahan Pertanian Basah

Tuntutan Utama Kenaikan Upah dan Kepastian Kerja

Tuntutan yang mendominasi aksi tahun ini mencakup kenaikan upah minimum, penghapusan sistem kerja outsourcing, serta pemberlakuan perlindungan sosial yang merata dan adil bagi seluruh pekerja, termasuk pekerja informal.

“Kami tidak menolak investasi, tetapi kami menolak sistem kerja yang merendahkan martabat buruh. Sudah saatnya negara hadir memberi jaminan upah yang layak dan perlindungan kerja yang pasti,” ujar Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, dalam orasinya di depan ribuan massa buruh di Jakarta Pusat.

Ia juga menyoroti kenaikan harga kebutuhan pokok yang tidak diimbangi oleh peningkatan kesejahteraan pekerja. Dalam konteks ini, ia menilai mekanisme penetapan upah minimum di banyak daerah tidak transparan dan terlalu berpihak pada kepentingan pemilik modal.

Outsourcing dan Kontrak Ancaman Kesejahteraan

Salah satu isu krusial dalam demonstrasi ini adalah penolakan terhadap sistem outsourcing dan perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) yang dianggap menjadi penyebab utama ketidakpastian kerja. Buruh menilai bahwa skema tersebut hanya menguntungkan perusahaan karena mereka dapat dengan mudah mengganti pekerja tanpa memberikan jaminan sosial jangka panjang.

“Banyak dari kami yang sudah bekerja bertahun-tahun, tapi tetap berstatus kontrak. Ini bukan sekadar soal hak kerja, tapi soal keadilan. Sistem kontrak ini menyandera masa depan kami dan keluarga,” kata Rahmawati, seorang buruh perempuan dari sektor manufaktur yang ikut serta dalam aksi di Jakarta.
Baca juga :

Alih Fungsi Lahan Pertanian Oleh PT. Pratama Abadi Industri Diduga Langgar Aturan, Dinas Pertanian Tak Rekomendasikan, Pelapor Desak Penegakan Hukum Adili Oknum Pejabat

Kasus Alih Fungsi Lahan PT. Pratama Abadi di Garut: Satu Tahun Jalan, Pelaku Tak Kunjung Terungkap, Warga Akan Bawa Kasus ke Mabes Polri

Aksi Damai dengan Nuansa Budaya

Menariknya, selain orasi, massa buruh juga menggelar pentas seni, teater jalanan, dan pembacaan puisi. Penampilan ini menjadi simbol bahwa perjuangan buruh tidak hanya bersifat politis dan ekonomis, tetapi juga bagian dari perlawanan budaya terhadap sistem yang dianggap menindas.

“Seni adalah alat perjuangan. Lewat puisi dan teater, kami ingin menunjukkan bahwa penderitaan buruh nyata, dan kami tidak akan diam,” ujar Darto, aktivis seni buruh dari Yogyakarta.

Pemerintah Diminta Bertindak Konkret

Menanggapi aksi tersebut, pihak pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan menyatakan bahwa mereka membuka ruang dialog untuk mendengarkan aspirasi buruh. Namun demikian, belum ada komitmen tegas terhadap tuntutan spesifik yang disampaikan.

Sementara itu, aparat kepolisian mengapresiasi jalannya aksi yang berlangsung aman dan tertib. “Kami siapkan pengamanan terbuka dan tertutup. Kami ucapkan terima kasih atas kerja sama semua pihak sehingga May Day berlangsung kondusif,” kata Kombes Pol. Heru Wibowo, juru bicara Polda Metro Jaya.

Lebih dari Sekadar Seremoni Tahunan

Hari Buruh Internasional bukan sekadar seremoni tahunan. Bagi para pekerja, ini adalah momentum untuk menyuarakan keresahan yang belum mendapatkan tempat dalam sistem ekonomi yang mereka anggap timpang. Dengan aksi damai yang massif ini, buruh berharap bahwa seruan keadilan sosial yang mereka gaungkan hari ini bisa menjadi penggerak perubahan nyata dalam kebijakan ketenagakerjaan di Indonesia. (Azis/Red.01***)

Tags

Terkini