ragam

Grup Facebook "Fantasi Sedarah” Viral, Pakar dan Legislator Desak Tindakan Tegas

Minggu, 18 Mei 2025 | 16:53 WIB
Grup FB Fantasi Sedarah

LOCUSONLINE, JAKARTA – Sebuah grup Facebook bernama Fantasi Sedarah menjadi sorotan publik setelah isinya yang menjijikkan, menormalisasi hubungan inses dan mengeksploitasi anak secara seksual, viral di berbagai platform media sosial. Grup ini disebut memiliki lebih dari 40 ribu anggota. Minggu, 18, Mei 2025

Grup tersebut menjadi tempat sejumlah akun anonim membagikan fantasi seksual menyimpang, bahkan mengaku pernah melakukan hubungan sedarah. Situasi ini memicu keprihatinan luas, termasuk dari pakar dan anggota DPR RI.

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surabaya, Holy Ichda Wahyuni, menyebut keberadaan grup ini sebagai sinyal nyata bahwa ruang aman bagi anak semakin tergerus. Ia menyoroti pentingnya edukasi seksual sejak dini untuk melindungi anak dari kekerasan yang kerap terjadi di lingkungan terdekat, termasuk di dalam rumah.

“Anak perlu tahu batasan tubuh dan hak atas privasinya. Sayangnya, banyak orang tua masih menganggap pendidikan seksual tabu,” ujar Holy, Jumat (16/5).

Holy menambahkan, orang tua harus menjadi pendengar yang aman bagi anak serta peka terhadap perubahan perilaku yang bisa menjadi tanda kekerasan seksual.

Baca Juga : Jelang Pembukaan Seleksi Direksi PDAM Garut, Anggota Partai Politik, Mantan Dewan Pengawas Tidak Bisa Mendaftar



Sementara itu, Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni mengecam keras keberadaan grup tersebut dan meminta aparat kepolisian serta Kementerian Komunikasi dan Digital segera bertindak.

“Grup seperti ini tidak hanya menyimpang, tapi berbahaya. Jika tidak dihentikan, bisa berujung pada kejahatan seksual nyata,” tegas Sahroni.

Ia menekankan pentingnya pelacakan dan pembinaan psikologis bagi pelaku, serta menutup semua akses yang memberi ruang bagi praktik menyimpang seperti itu. Masyarakat pun diminta untuk aktif melapor jika menemukan indikasi serupa.

Saat berita ini diterbitkan, grup tersebut sudah tidak lagi ditemukan di Facebook. Namun, kekhawatiran akan munculnya ruang-ruang serupa di media sosial tetap tinggi. (BAAS)

Tags

Terkini