ragam

SPN Gelar Lokakarya Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Mataram

Sabtu, 7 Juni 2025 | 17:13 WIB
Lokakarya SPN di Mataram

LOCUSONLINE, MATARAM – Menyikapi tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Nusa Tenggara Barat (NTB), organisasi Suara Perempuan Nusantara (SPN) menyelenggarakan Lokakarya Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender (KBG) di Kota Mataram, Kamis (5/6/2025).

Kegiatan ini diikuti oleh 25 peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, aktivis komunitas, tokoh masyarakat, hingga perempuan muda yang peduli terhadap isu gender.

Ketua SPN, Nur Khotimah, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kekerasan berbasis gender kini telah merambah berbagai ruang kehidupan, termasuk tempat ibadah, institusi pendidikan, bahkan forum publik.

"Kita menghadapi situasi darurat. Kekerasan tidak lagi tersembunyi di balik tembok rumah, tapi juga muncul di ruang-ruang yang semestinya aman," ujarnya.

Lokakarya ini bertujuan membekali peserta dengan pemahaman menyeluruh mengenai berbagai bentuk kekerasan, baik fisik, psikis, seksual, maupun ekonomi, yang kerap tidak disadari namun berdampak serius bagi korban.

Salah satu fasilitator menegaskan pentingnya mengenali kekerasan non-fisik, seperti ujaran yang melemahkan, kontrol terhadap tubuh perempuan, hingga menyalahkan korban. Bentuk kekerasan semacam ini, menurutnya, sering terabaikan namun sama merusaknya.

Melalui pendekatan partisipatif, peserta diajak memetakan bentuk-bentuk kekerasan yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Mereka juga mendiskusikan akar ketimpangan struktural, termasuk budaya patriarki dan relasi kuasa yang memperkuat praktik kekerasan.

Berbeda dari seminar konvensional, lokakarya ini menekankan tindak lanjut nyata. Peserta merancang berbagai inisiatif komunitas, seperti forum diskusi feminis di lingkungan kampus, pelatihan pendampingan korban, hingga membentuk jejaring respon cepat untuk penanganan kasus kekerasan.

“Pengetahuan yang diperoleh di sini tidak boleh berhenti di ruang ini saja,” tegas Nur Khotimah. Ia menambahkan, perubahan sosial harus dimulai dari gerakan bersama yang dibangun atas dasar keberanian untuk peduli dan bertindak.

Menurut SPN, pendidikan publik merupakan kunci dalam upaya pencegahan KBG, terutama di tengah rendahnya kesadaran masyarakat terhadap berbagai bentuk kekerasan yang terjadi.

Seorang peserta dari Universitas Mataram menyampaikan bahwa forum ini memberinya perspektif baru dalam memahami kekerasan terhadap perempuan. “Kita terlalu sering menuntut perempuan untuk diam dan kuat. Padahal, keberanian berbicara adalah langkah awal menuju pemulihan,” ujarnya.

SPN juga menegaskan pentingnya menciptakan ruang aman secara fisik, psikologis, dan sosial bagi perempuan serta kelompok rentan. Ruang aman, kata mereka, bukan semata tanggung jawab lembaga, tetapi juga individu yang berani berpihak pada korban.

Lokakarya ini juga menjadi ruang konsolidasi lintas komunitas yang selama ini bergerak secara terpisah. Banyak peserta mengaku baru kali ini mengikuti forum yang membahas isu kekerasan berbasis gender secara komprehensif.

Hasil lokakarya akan dirangkum dalam laporan bersama yang akan digunakan sebagai bahan advokasi, termasuk untuk mendorong kebijakan perlindungan korban di tingkat lokal, penguatan pendidikan publik, serta perumusan kebijakan yang lebih responsif gender di lembaga pendidikan dan pemerintahan daerah.

“Diam terhadap kekerasan bukan pilihan. Jika kita memilih bungkam, maka kita turut menjadi bagian dari kegagalan kolektif,” tutup Nur Khotimah. (Laela)

Tags

Terkini