LOCUSONLINE, BANJARNEGARA – Suasana religius menyelimuti Dusun Parakan, Desa Majatengah, Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara, saat ratusan warga memadati Masjid Khairul Huda untuk melaksanakan salat Idul Adha 1446 Hijriah, Jumat (6/6/2025).
Sejak dini hari, masyarakat setempat telah berdatangan mengenakan pakaian terbaik. Anak-anak terlihat mengenakan busana baru, para ibu memakai mukena putih bersih, dan para pria hadir dengan sarung dan peci rapi. Kebersamaan terasa kental melalui senyum dan sapa hangat antarwarga.
“Lebih terasa gotong royongnya kalau Idul Adha di desa. Semua warga ikut terlibat, mulai dari persiapan sampai pembagian daging kurban,” ungkap Ririn, warga Parakan yang telah menetap selama puluhan tahun.
Salat Id dimulai tepat pukul 06.30 WIB dengan Imam Suripto sebagai imam, sementara khutbah disampaikan oleh Ustaz Akas Nurhidayah, S.Pd.I. Dalam ceramahnya, Ustaz Akas menekankan nilai pengorbanan dan kepedulian sosial yang menjadi inti dari ibadah kurban.
“Kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tapi juga mengikis sifat buruk dalam diri, seperti keserakahan dan egoisme,” tuturnya. Ia juga mengajak jamaah untuk menjadikan momen ini sebagai ajang berbagi kepada sesama, khususnya masyarakat kurang mampu.
Usai salat, suasana haru tampak menyelimuti masjid. Beberapa jamaah terlihat menitikkan air mata, saling berpelukan, dan mempererat tali silaturahmi, mencerminkan solidaritas khas masyarakat desa.
Tahun ini, panitia berhasil menghimpun lima ekor sapi dan 17 kambing dari warga yang berkurban. Proses penyembelihan dilakukan oleh panitia lokal yang sebagian besar adalah pemuda desa. Mereka telah menyiapkan segala kebutuhan sejak jauh hari, termasuk kandang sementara dan sistem distribusi daging.
“Kami sudah melakukan pendataan penerima daging kurban. Prioritas kami adalah keluarga pra-sejahtera dan para janda lansia,” kata Widodo, Ketua Panitia Kurban.
Pembagian daging dilakukan secara tertib. Warga penerima tampak antusias dan bersyukur atas bantuan yang mereka terima. Aroma masakan khas Idul Adha seperti sate dan gulai mulai tercium dari dapur-dapur warga. Tradisi makan bersama menjadi penutup perayaan yang penuh makna ini.
Lebih dari sekadar ritual keagamaan, Idul Adha di Parakan menjadi simbol kuat persatuan dan semangat kemanusiaan. Warga dari berbagai latar belakang duduk bersama, berbagi cerita dan hidangan, menegaskan bahwa kebahagiaan sejati terletak pada kepedulian dan saling berbagi.
Perayaan Idul Adha di desa ini menjadi gambaran harmoni sosial yang terjaga dengan baik. Di tengah gema takbir dan aroma daging kurban, tumbuh erat nilai-nilai solidaritas dan persaudaraan yang menjadi kekuatan utama masyarakat Parakan. (BAAS)