ragam

Dilecehkan Karyawan One Stadium, Wartawan Perwirasatu Disebut “Anjing”, Pemred Geram: “Kami Akan Tempuh Jalur Hukum!”

Selasa, 17 Juni 2025 | 09:53 WIB
ilustrasi

LOCUSONLINE, GARUT – Insiden penghinaan terhadap profesi jurnalis kembali mencoreng dunia hiburan. Seorang wartawan Perwirasatu.co.id, Aditya, menjadi korban pelecehan verbal di pusat hiburan One Stadium, Jalan Karacak, Garut Kota, Sabtu (14/6) malam.

Insiden bermula saat Aditya hendak meninggalkan lokasi usai bermain game. Ketegangan terjadi di meja kasir karena penolakan metode pembayaran non-tunai. Aditya yang tidak membawa uang tunai, menawarkan solusi agar transaksi bisa dilakukan melalui penarikan ATM. Namun, respons karyawan justru memperburuk situasi.

Seorang staf bernama Fahrul, setelah mengetahui profesi Aditya, secara kasar melontarkan hinaan bernada kebencian, “Wartawan anjing,”—sebuah pernyataan yang tidak hanya mencederai individu, tetapi juga melecehkan profesi pers secara keseluruhan.

Alih-alih meredakan situasi, pihak manajemen One Stadium justru menunjukkan sikap tidak simpatik. Tidak ada permintaan maaf, bahkan wartawan korban penghinaan malah diminta meminta maaf.

Konfirmasi kepada pihak manajemen pun tak banyak mengurai duduk perkara. Manajer One Stadium, Erfan, membenarkan adanya ucapan tidak pantas dari stafnya, namun enggan mengklarifikasi detail kejadian dengan alasan ketidaktahuan.

Baca Juga : GLPMK Desak Penghentian Operasional PT. UNI di PN Garut, Ada Dugaan Pelanggaran Izin Lingkungan



Pernyataan tersebut justru memicu kemarahan insan pers. Pemimpin Redaksi Perwirasatu.co.id, R. Satria Santika—yang akrab disapa Bro Tommy—menyebut penghinaan itu sebagai bentuk pelecehan serius terhadap profesi jurnalis.

“Ucapan ‘wartawan anjing’ lebih tajam dari luka fisik. Ini penghinaan terhadap harkat dan martabat wartawan serta manusia. Kami tidak akan diam,” tegas Tommy, Minggu (15/6).

Tommy menegaskan pihaknya tengah mengkaji langkah hukum sebagai respons atas perlakuan tidak beradab tersebut. Ia menilai karyawan yang bersangkutan tidak profesional dan gagal menjaga etika layanan publik.

“Kami terbuka terhadap kritik, tapi ini murni penghinaan. Wartawan bekerja demi kepentingan masyarakat. Karyawan hiburan seperti itu seharusnya bisa menahan diri, bukan melampiaskan emosi dengan kata-kata binatang,” tandasnya.

Tak berhenti di situ, Tommy juga menyayangkan keterlibatan oknum aparat dari Polsek Garut Kota yang disebut-sebut menunjukkan sikap berpihak kepada pihak manajemen saat dilakukan audiensi.

“Kami ditekan agar tidak memberitakan, bahkan diancam akan dituntut kalau berita ini naik. Lantas, siapa dia? Kalau polisi sudah bersikap seperti pengacara perusahaan, jelas ini bentuk intervensi,” kecamnya.

Insiden ini memantik reaksi keras dari kalangan jurnalis lokal. Mereka menilai penghinaan ini sebagai bentuk arogansi yang mencederai nilai-nilai demokrasi dan kebebasan pers. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Garut pun diminta turun tangan menindaklanjuti kasus ini secara serius. (Red)

Tags

Terkini