ragam

Perputaran Uang Triliunan Rupiah di Sukaregang Garut, Tapi Limbah Masih Bermasalah

Kamis, 26 Juni 2025 | 14:26 WIB

LOCUSONLINE.CO, GARUT - Sukaregang adalah nama salah satu daerah di Kelurahan Kota Wetan, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut.

Sukaregang adalah sentra kerajinan aneka produk dengan bahan kulit Sapi dan Domba. Komplek yang paling lengkap menjual aneka fashion yang berkualitas berada di Jl. Ahmad Yani dan Gagak Lumayung.

Selain dikenal sebagai pusat bisnis aneka produk fashion dari bahan kulit Sapi dan Domba, ternyata kreativitas masyarakatnya sudah teruji sebelum Indonesia dinyatakan merdeka. Artinya, kemahiran masyarakat Sukaregang mengolah kulit binatang menjadi sebuah produk fashion sudah teruji sejak lama, sebelum nama negara Indonesia belum ada dan diakui dunia sebagai suatu negara.

-
Pengrajin Jaket Kulit Sukaregang Garut sekaligus pemilik Toko Nudenim, Deni Saputra. (Ft: ist)

Kendati demikian, masih banyak pejabat pemerintah, baik di tingkat kabupaten, provinsi dan pusat dianggap belum memahami bagaimana potensi bisnis di Sukaregang, sehingga belum bisa memanfaatkan serta mengembangkan potensi bisnis dari Sukaregang secara maksimal.

Hal itu bisa dilihat dari cara Pemerintah setempat mengelola wilayah Sukaregang. Walaupun setiap akhir pekan atau hari libur nasional banyak dikunjungi wisatawan, namun kondisi kemacetan dan kesemrawutan di daerah ini masih menjadi keluhan sejumlah wisatawan yang datang dari luar daerah.

-


Kesemrawutan, kemacetan dan keluhan wisatawan yang datang ke Sukaregang terus bertambah. Bahkan, sejumlah tokoh di daerah sekitar Sukaregang menyayangkan tentang pengelolaan limbah yang masih menjadi “kasus” lingkungan. Sehingga persoalan ini menjadi “Bumerang” bagi setiap kepala daerah yang dipercaya rakyat memimpin Garut.

“Pembangunan di kawasan wisata Sukaregang bertentangan dengan perputaran uang yang terjadi selama ini. Setidaknya transaksi jual beli di Sukaregang sudah mencapai puluhan miliar rupiah setiap bulannya dan mencapai angka trilyunan rupiah setiap tahunnya,” ujar salah satu pelaku pengrajin kulit sekaligus pemilik toko NuDenim Leather, Deni Saputra, kepada media, Minggu (22/06/2025).

Menurut Deni, di Sukaregang terdapat beberapa jenis usaha kerajinan kulit. Ada 3 kategori jenis-jenis usaha di Sukaregang. Pertama, pertokoan pribadi yang didominasi pelaku usaha asli Sukaregang. Kedua pertokoan di Sentra penjualan milik pengusaha yang berbisnis persewaan seperti Sukaregang Center, Fiazza Firenze, Elco Center dan lainnya. Ketiga, penyamakan kulit seperti pabrik pengolahan kulit.

-


“Bahan dasar kulit dari berbagai tempat masuk ke pabrik-pabrik pengolahan kulit. Setelah melalui berbagai proses sampai finishing, kulit dijual ke pengrajin Sukaregang, pabrik garmen dan sepatu di luar Sukaregang,” ujar Deni Saputra memulai membuka cakrawala tentang “Industri Dollar” di Sukaregang Garut.
Bisnis Menjanjikan Sukaregang Jadi "Industri Dollar"

Industri Dollar, demikian Deni Saputra menyebut industri penyamakan Sukaregang. Pasalnya, bisnis kulit memang sangat menggiurkan dan terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan para pelaku usahanya.

"Perputaran uang di Sukaregang sangat besar. Bukan hanya pelaku penyamakan, pabrik dan pertokoan, tetapi berpengaruh juga terhadap bisnis lainnya di Kota Garut. Fashion dari kulit mampu menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah bahkan wisatawan asing. Sehingga saya menyebut Sukaregang sebagai Industri Dollar," terangnya.

-


Namun sayang, Deni mengaku heran dengan kepala daerah yang memimpin Garut. Pasalnya, persoalan limbah di Sukaregang hingga kini belumlah tuntas.

"Sejak dulu saya menyuarakan agar Sukaregang dijadikan sebagai destinasi wisata belanja seperti Malioboro di Jogyakarta. Selain itu, selesaikan secara serius tentang masalah limbah B3 dengan membantu semua pengusaha membuat IPAL, Amdal dan lainnya yang berkaitan dengan limbah industri," katanya.

IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) wajib diperjuangkan. IPAL harus ada agar lingkungan tidak tercemar, masyarakat sehat, bisnis pun menjadi lancar.

"Kejahatan lingkungan itu sangsinya berat, masalah yang ditimbulkan juga kompleks. Untuk itu harus segera diselesaikan oleh pemerintah dengan mengajak semua pengusaha untuk bermusyawarah demi Garut yang lebih hebat," imbuhnya.

Yang paling penting, kata Deni, pembuangan akhir limbah padat harus tersedia dan dikelola sesuai standar baku mutu. Limbah juga bisa dijadikan alternatif bahan pupuk dan yang lainnya.

"Sering terjadi pembuangan limbah padat sembarangan, seperti kejadian yang baru-baru ini viral. Ini harus menjadi perhatian serius Bupati dan Wakil Bupati Garut," ujarnya.
Cara Menghitung Perputaran Uang di Sukaregang.

Ketika ditanya bagaimana menentukan perputaran uang yang mencapai miliaran perbulan dan trilyunan pertahunnya, Deni menyebutkan jumlah pengusaha, pabrik, dan pertokoan yang menggeluti usaha kulit.

"Saya pastikan nilainya mencapai miliaran karena saya juga sebagai salah satu pelaku usaha disini tahu betul bagaimana perputaran uang di Sukaregang. Jual beli kulit mentah, penggunaan bahan kimia untuk mengolah bahan dasar sampai bahan siap pakai membutuhkan modal yang sangat tinggi. Kemudian didukung dengan produksi dan penjualan ditingkat lokal, regional, nasional hingga ke mancanegara. Sejak masa penjajahan sampai Indonesia menjadi negara berkembang bisnis kulit semakin pesat," imbuhnya.

Deni berharap, Pemerintah bisa memprioritaskan pembangunan dan penataan Sukaregang sehingga menjadi destinasi wisata yang aman, nyaman, menyenangkan dan tentu bisa membantu Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk Pemkab Garut.

"Kalau Gubernur dan Bupatinya cerdas, saya yakin Sukaregang akan menjadi kebanggaan di kancah dunia bisnis dan fashion. Garut akan menjadi mercusuar bisnis di tingkat dunia," pungkasnya. (***)

 

 

Tags

Terkini