ragam

Kebun Binatang Bandung Ricuh: Konflik Manajemen Picu Penutupan, Satwa Jadi Korban

Jumat, 4 Juli 2025 | 14:16 WIB
Foto Istimewa

LOCUSONLINE, KOTA BANDUNG — Kericuhan berkepanjangan antara dua kubu manajemen Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) kembali mencuat ke permukaan dan kini berujung pada penutupan operasional taman konservasi tersebut. Wali Kota Bandung, Muhamad Farhan, tak mampu menutupi kejengkelannya.

"Kami capek! Pemerintah sudah turun tangan, aparat penegak hukum juga, tapi ribut internal tak kunjung selesai. Kalau sampai ditutup, tanggung jawab penuh ada di pihak pengelola," tegas Farhan, Kamis (3/7/2025).

Farhan menyatakan pemerintah tak akan ikut campur lebih jauh karena sejak lama Bandung Zoo tak menyumbang kontribusi berarti. "Tanah milik pemerintah, tapi tak pernah bayar sewa, tak pernah bagi hasil, pajak hiburan pun kecil," sindirnya.

Bahkan Farhan mengancam akan merekomendasikan peninjauan ulang izin konservasi kepada Kementerian Kehutanan.

Penutupan Bandung Zoo terjadi Kamis pagi (3/7), diduga buntut dari perselisihan antara manajemen baru dan lama yang memuncak dalam keributan di ruang keuangan malam sebelumnya.

Baca Juga :


Pemprov Jabar Gencarkan Operasi Bersih Tambang Bodong, 118 Tambang Ilegal Disikat! Sumedang Terparah



Kondisi di lapangan menunjukkan sejumlah petugas keamanan berjaga di pintu masuk, sementara karyawan terlihat berkumpul di luar area. Situasi ini mengejutkan pengunjung yang datang dari berbagai daerah, termasuk rombongan anak-anak sekolah.

Sulhan Syafii, Humas Bandung Zoo dari manajemen lama, menyebut dualisme kepemimpinan menyebabkan kekacauan internal hingga berimbas pada perawatan satwa. Ia mengklaim sejak Maret 2025, telah terjadi kematian tujuh satwa dan satu dalam kondisi stres.

"Masalah ini bukan hanya soal manajemen, tapi nyawa satwa. Dari urusan kompos sampai perawatan, semua berantakan," ujar Sulhan.

Manajemen lama pun menuding kubu baru tak mampu menunjukkan dokumen legal yang sah, sehingga memicu pengambilalihan ruang keuangan. Keributan pun tak terelakkan.

Sementara itu, Ully Rangkuti, Humas dari manajemen baru, mengaku tidak mengetahui pasti alasan penutupan. Ia menyebut pengumuman baru diterima pagi hari dan menyayangkan pengunjung yang harus membatalkan kunjungan.

"Soal keributan semalam cukup sensitif. Kami serahkan pada pimpinan," ucap Ully.

Menanggapi isu kematian satwa, Ully berdalih faktor alam seperti usia dan cuaca sebagai penyebab utama. Ia menyatakan BKSDA telah melakukan pemeriksaan dan menyusun Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

Namun, bagi publik, dalih itu tak cukup. Iis, warga Cicadas, mengaku kecewa karena penutupan dilakukan tanpa pemberitahuan. “Bawa anak-anak sudah jauh-jauh, tapi tutup,” sesalnya.

Kisruh manajemen Bandung Zoo kini bukan sekadar konflik internal—ini sudah menyentuh aspek pelayanan publik, kesejahteraan satwa, dan tata kelola lembaga konservasi. Jika tak segera diakhiri, nasib taman konservasi ini bisa masuk daftar kegagalan tata kelola lingkungan paling mencolok di kota kembang. (Bhegin)

Tags

Terkini