ragam

Janji Surga di Irak, Neraka yang Didapat: Kisah Nurjanah yang Dijual Hidup-Hidup Demi Rupiah

Senin, 7 Juli 2025 | 09:24 WIB
Nurjanah TKW asal Kabupaten Purwakarta

LOCUSONLINE, PURWAKARTA — Nurjanah (36), warga Desa Pasawahan Kulon, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Purwakarta, kini terjebak dalam mimpi buruk yang nyata di Irak. Berangkat dengan harapan mengais rezeki di Turki, ia justru mendarat di padang penderitaan negeri orang, diperlakukan lebih buruk dari peliharaan. Dengan suara parau dari seberang lautan, ia memohon pertolongan dari pemerintah Indonesia, termasuk Gubernur, Bupati, hingga aparat hukum. Senin, 7 Juli 2028

Dari balik dinding rumah majikan Irak yang lebih terasa seperti penjara, Nurjanah mengirim pesan elektronik penuh luka. Ia mengisahkan perlakuan keji yang diterimanya—ditampar, ditendang, hingga dikurung di kamar mandi.

"Saya dipanggil hewan, mereka bilang saya sudah dibeli," ungkap Nurjanah dengan nada getir.

Tak hanya kata-kata kasar yang menjadi makanan harian, tubuhnya pun menjadi sasaran kekerasan. Bekas operasi Caesar di perutnya sering kambuh akibat pekerjaan kasar dari pagi hingga malam.

"Kadang bersih-bersih sampai lantai tiga, masak, cuci baju... kalau salah sedikit langsung diungkit. Majikan bilang saya barang," kisahnya, lirih.

Perjalanan kelam ini dimulai saat tetangganya, Neni, mengenalkannya pada jaringan yang menjanjikan kerja di Turki. Namun alih-alih sampai di Istanbul, Nurjanah justru "diekspor" ke Irak secara ilegal. Ia bahkan mengaku sempat mendapat ancaman laporan polisi jika menolak berangkat.

"Saya bahkan tidak menjalani tes kesehatan, semuanya dipaksa dan dibohongi," katanya.

Bahkan saat sudah berada di penampungan sebelum dikirim ke majikan pertama, Nurjanah sudah merasakan kekerasan fisik—hingga akhirnya pingsan.

Suaminya, Samanhudi, hanya bisa pasrah dari Purwakarta. Dengan utang menumpuk dan tanpa modal, ia bingung harus berbuat apa.

"Kami punya utang lima belas juta, tapi saya tidak tahan istri diperlakukan seperti itu," ujarnya lewat WhatsApp.

Baca Juga :


Dibalik Nama, Terselip Ego Kekuasaan, Dedi Mulyadi Bapak Aing Nu Piomongeun!



Pemerintah daerah, melalui mantan Kepala Disnakertrans Purwakarta, Didi Garnadi, menyatakan komitmennya membantu proses pemulangan warga.

"Baik legal maupun ilegal, tugas negara melindungi warganya," tegasnya.

Dukungan juga datang dari Kepala BP3MI Jawa Barat, Kombes Pol. Mulia Nugraha, yang siap mendampingi keluarga untuk melapor resmi ke pihak berwenang, serta dari Direktur Perlindungan WNI dan BHI, Judha Nugraha, yang telah menugaskan stafnya untuk menghubungi Nurjanah.

Tak tinggal diam, aktivis perempuan dan mantan PMI ikut bersuara. Egha Nur Khotimah dari NTB menuntut sanksi tegas untuk jaringan pengiriman ilegal pekerja migran.

"Sudahi praktik busuk ini. Perempuan bukan komoditas ekspor!" ujarnya lantang.

Paryanto, aktivis dan purna PMI Jawa Barat, menambahkan, “Negara tidak boleh abai. Sekarang bukan waktunya berdebat legal atau ilegal—yang penting Nurjanah harus pulang. Selamat. Hidup.”

Kasus Nurjanah membuka luka lama tentang buruknya tata kelola perlindungan PMI. Sudah terlalu sering perempuan Indonesia ‘dijual’ oleh tetangganya sendiri demi komisi receh. Dan terlalu sering pula negara terlambat datang… setelah air mata habis ditumpahkan. (Laela)

Tags

Terkini