ragam

Koperasi Merah Putih: Kado Ulang Tahun yang Lebih Banyak Tepuk Tangan daripada Transaksi

Senin, 14 Juli 2025 | 13:42 WIB
Foto Istimewa

LOCUSONLINE, PURWAKARTA — Dalam perayaan Hari Jadi ke-194 Kota Purwakarta dan ke-57 Kabupaten Purwakarta, pemerintah daerah meluncurkan 192 Koperasi Merah Putih, lengkap dengan panggung megah, piagam penghargaan, dan harapan yang menggantung di langit acara. Bertempat di Taman Pasanggrahan Padjajaran, peluncuran ini disulap menjadi kado spesial yang penuh simbol, iringan musik, bazar, dan jalan santai, seperti biasa: lebih ramai seremoni daripada substansi. Senin, 14 Juli 2025

Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Bunzein, dengan nada penuh tekad menyebut koperasi-koperasi itu siap menyongsong masa depan, bahkan “siap diresmikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto”. Karena, rupanya, koperasi rakyat pun kini butuh sentuhan tangan elit agar terasa sah dan meyakinkan.

“Jangan cuma muter di tempat. Harus ekspor!” seru Bupati, seakan mengabaikan bahwa banyak pelaku UMKM masih berjibaku dengan modal cekak, akses pasar yang sempit, dan legalitas usaha yang lebih sulit daripada cari sinyal di pelosok desa. Tapi tak apa, karena ekspor sudah menjadi mantra wajib dalam setiap pidato pembangunan.

Tak lupa, piagam penghargaan dibagikan ke 17 kecamatan. Sebagai tanda terima kasih bukan karena koperasinya sudah maju, tapi karena sudah terbentuk. Seolah-olah berdirinya koperasi sudah cukup jadi alasan untuk perayaan, meskipun omzet belum tentu melebihi biaya sewa tenda launching.

Baca Juga :


Kapolres Baru, Harapan Lama: Tongkat Estafet di Purwakarta yang Penuh Pesan Haru dan Beban Baru



Dengan iringan hiburan musik dan deretan stan bazar sembako murah, acara ini seperti pesta rakyat, meski rakyat tetap harus belanja sendiri. Kemeriahan makin lengkap dengan adanya door prize, dari sepeda hingga motor, karena memang tidak ada acara besar tanpa hadiah yang bikin warga antre.

Namun, publik masih menunggu: apakah koperasi ini benar-benar akan bergerak sebagai penguat ekonomi rakyat? Ataukah cukup berhenti sebagai simbol politik dan papan nama di desa yang ujung-ujungnya jadi beban pengurus karena minim modal dan bimbingan?

Festival budaya pun sudah dijadwalkan, dari pertunjukan air mancur tematik sampai parade kereta kencana — membuktikan bahwa narasi “ekonomi kerakyatan” bisa tampil glamor asal punya panggung yang cukup luas. Tema besar “Ngurus Lembur, Nata Kota, Ngosrek Purwakarta Istimewa” pun terdengar megah, meskipun rakyat belum tentu tahu siapa yang benar-benar diurus dan apa yang sebenarnya ditata.

Dengan sokongan sponsor seperti Bank BJB dan BPJS Ketenagakerjaan, acara ini tampak seperti simbiosis antara kepentingan citra pemerintah dan keterlibatan korporasi, dibungkus dalam kemasan pesta dan foto-foto untuk unggahan media sosial.

Jika koperasi-koperasi ini kelak hanya tinggal plakat dan papan nama, maka “kado ulang tahun” ini tak lebih dari kemasan tanpa isi. Karena ekonomi rakyat tak cukup didorong dengan panggung dan piagam, tapi dibutuhkan pendampingan, kejujuran niat, dan konsistensi membumi — sesuatu yang tak selalu bisa dipamerkan di acara seremonial. (Laela)

Tags

Terkini