ragam

500 Guru Dikerahkan Hadapi Robot: Telkom dan Pemkab Garut Galakkan Literasi Digital dengan Seminar Hotel

Senin, 14 Juli 2025 | 13:55 WIB
Foto Istimewa

LOCUSONLINE, GARUT — Di tengah gegap gempita algoritma dan kekhawatiran guru bakal tergantikan kecerdasan buatan, Pemerintah Kabupaten Garut dan Telkom Indonesia menggelar Indonesia Digital Learning (IDL) for Great Teacher 2025. Acara yang lebih mirip seminar bisnis ini digelar di ballroom hotel, bukan di ruang kelas, dengan menghadirkan 500 guru sebagai peserta, dan segudang narasumber dari universitas hingga praktisi digital. Senin, 14 Juli 2025

Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, dengan penuh semangat menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah “kesempatan emas” bagi guru untuk menata ulang pola pikir dan belajar mainan baru bernama tools digital. “Kami ingin anak-anak hebat,” ujarnya, seolah guru tak cukup hebat kalau belum bisa bedakan Google Drive dengan Dropbox.

Syakur juga mengingatkan, digitalisasi bukan ancaman, tapi peluang. Sebuah pernyataan lama yang diulang di forum baru, entah sudah berapa kali sejak istilah “literasi digital” dikampanyekan sebelum sinyal internet stabil menjangkau seluruh desa.

Tak lupa, Telkom turut berperan heroik dalam narasi ini. General Manager Telkom Priangan Timur, Nugroho Setio Budi, menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari kontribusi BUMN yang mengembalikan “sebagian keuntungan kepada rakyat”. Ya, sebagian yang cukup untuk sewa ballroom, sertifikat, dan mungkin makan siang kotak.

“Kami siapkan para guru menghadapi bonus demografi 2045,” kata Nugroho. Sebuah misi futuristik yang berharap guru-guru yang hari ini masih terbata dengan PowerPoint bisa mendidik generasi yang akan bersaing dengan robot, startup, dan pasar global.

Baca Juga :


Pelayanan BUMD Banyak Dikeluhkan dan Terjadi Tindak Pidana Korupsi. Hati-Hati Bupati dan Sekda Bisa Terseret?


Mencari Keadilan Melalui RDP ke Komisi III DPR RI, Advokat: Polri Harus Paparkan Tentang Scientifik Crime Investigation



Dalam dua hari pelatihan kilat itu, guru-guru diminta mempelajari AI, tools, dan technopedagogi dari para pakar universitas yang lebih fasih bicara teori ketimbang kondisi kelas bocor dengan kursi reyot di pelosok desa. Harapannya: guru kembali ke sekolah dengan mindset baru, skill tajam, dan akun Pijar aktif. Soal murid tetap tak bisa beli kuota? Mungkin bisa disiasati dengan doa.

“Kami ingin guru tidak takut lagi dengan sertifikasi,” lanjut Nugroho, seolah masalah utama guru hari ini adalah takut, bukan tumpukan administrasi, beban kerja, atau gaji yang kalah dari youtuber.

Acara ditutup dengan optimisme dan selfie. Bahwa Garut kini punya 500 guru digital-ready — setidaknya di foto dokumentasi. Sementara realitas pendidikan menunggu: ruang kelas, jaringan internet, dan murid-murid yang lebih akrab dengan TikTok daripada modul daring.

Ketika transformasi digital disulap jadi seminar berkala dan foto dokumentatif, yang tumbuh bukan kualitas pendidikan, melainkan ilusi kemajuan. Guru boleh melek teknologi, tapi siapa yang mengajari sistemnya untuk ikut sadar realitas? (Suradi/Bhegin)

Tags

Terkini