ragam

2.500 Bibit Pohon: Bedak Tipis di Wajah Kusam Citarum

Selasa, 15 Juli 2025 | 18:32 WIB
Perum Jasa Tirta II kembali melemparkan 2.500 bibit pohon ke Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum

LOCUSONLINE, CIMAHI — Dalam rangka merias wajah sungai paling tercemar di Indonesia, Perum Jasa Tirta II kembali melemparkan 2.500 bibit pohon ke Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum—sebuah langkah kecil yang katanya demi masa depan, meski masa lalu dan kini masih digenangi limbah industri dan domestik tanpa ampun.

Penyerahan bibit ini dilakukan dengan penuh semangat simbolik kepada Perumda Tirta Raharja Cimahi di Kantor mereka di Jl. Kolonel Masturi, disusul seremoni tanam pohon di kawasan Situ Cihejo, Gunung Malabar, Kabupaten Bandung. Lokasi yang dipilih tentu jauh dari mata, agar aroma kritik tak terlalu kentara.

Kepala Divisi Operasi Pemeliharaan Sumber Daya Air dan Listrik Perum Jasa Tirta II, Herry Rachmadyanto, dalam siaran persnya Jumat (11/7/2025), menyebut aksi ini sebagai “komitmen nyata” untuk pelestarian lingkungan. Meskipun kenyataan di lapangan menunjukkan Citarum masih sibuk menelan limbah pabrik, popok bayi, dan segala bentuk ‘komitmen palsu’ selama puluhan tahun.

“Langkah kecil hari ini adalah investasi besar untuk masa depan,” ujar Herry, dalam pernyataan yang terdengar manis, meski kenyataannya lebih cocok disandingkan dengan istilah “plester di atas luka gangren”.

Baca Juga :


Mulai 2025, Marketplace Wajib Pungut Pajak! Simak Aturan Baru PMK 37/2025



Perumda Tirta Raharja Cimahi pun ikut bertepuk tangan dalam kolaborasi ini, berharap masyarakat juga ikut tersentuh hatinya untuk menjaga lingkungan. Padahal yang lebih dibutuhkan adalah penegakan hukum terhadap perusak lingkungan, bukan hanya seremonial penanaman bibit yang lebih sering tumbuh menjadi dokumentasi media ketimbang pohon dewasa.

Dengan 2.500 bibit, tentu konservasi DAS Citarum terasa lebih "fotogenik" ketimbang efektif. Sebuah usaha yang mengandalkan harapan lebih dari penindakan. Maka tak heran, Sungai Citarum tetap menjadi legenda hitam yang namanya harum di konferensi, tapi busuk di lapangan.

Catatan Redaksi:
Ketika aliran limbah mengalir lebih lancar daripada aliran air bersih, maka bibit pohon yang ditanam bukanlah solusi, melainkan dekorasi. Citarum butuh revolusi, bukan hanya seremoni. (Laela)

Tags

Terkini