“Api besar itu asalnya dari kecil dari lilin, korsleting, atau kompor. Kalau bisa ditangani mandiri, kebakaran besar tidak akan terjadi,” katanya.
Menurutnya, jangkauan mobil damkar hanya efektif dalam radius 200 meter dari akses jalan, sehingga kemampuan masyarakat menjadi faktor utama dalam pencegahan awal. Edukasi pemadaman mandiri juga telah diberikan sejak tingkat taman kanak-kanak hingga masyarakat umum.
“Yang sering terjadi itu panik. Padahal dengan cara sederhana, tinggal ditutup dengan jari atau kain basah, api bisa padam. Intinya, jangan panik,” tegasnya.
Selain edukasi, Disdamkar Garut mengembangkan berbagai inisiatif berbasis gotong royong. Salah satunya pembangunan kandang ular untuk edukasi reptil dengan biaya swadaya sebesar Rp11 juta. Kandang tersebut dimanfaatkan untuk mengedukasi masyarakat tentang hewan melata, sekaligus menampung ular hasil penyerahan warga sejak 2021.
“Karena anggaran tidak ada, saya ajak teman-teman SKPD. Mereka spontan bantu. Gotong royong bisa membuat banyak hal tercapai,” ujar Usep.
Disdamkar juga mengelola lahan untuk menanam sayuran dan beternak lele bekerja sama dengan Dinas Peternakan, Pertanian, dan Ketahanan Pangan. Upaya ini dilakukan untuk menjaga ketahanan pangan internal dan kesejahteraan anggota.
Menariknya, markas damkar juga menjadi tempat perawatan hewan hasil penyelamatan, seperti kucing. Keberadaan hewan-hewan ini ikut membantu menjaga kesehatan mental petugas.