Selain drama ketenagakerjaan, reses ini juga membahas pembangunan air bersih yang rencananya direalisasikan tahun 2026. Warga berharap air bersih benar-benar mengalir ke rumah, bukan hanya ke dalam dokumen rencana.
“Programnya sudah masuk agenda prioritas,” kata Imat, seolah menegaskan bahwa air bersih dan lapangan kerja sama-sama butuh aliran dana.
Sebagai solusi jangka panjang, Imat menyarankan agar anak-anak muda laki-laki mengikuti pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK) agar punya sertifikat kompetensi. Namun beberapa warga menimpali dengan nada satir, “Kalau ujung-ujungnya perusahaan tetap butuh perempuan, ya kita latih saja jadi model brosur lowongan.”
Reses yang seharusnya penuh formalitas berubah menjadi ruang tawa getir. Antara realita ketimpangan kerja dan janji perubahan yang seperti lagu lama enak didengar, sulit dibuktikan.(Nuroni)