“Kolaborasinya semakin besar, tidak hanya di desa ini,” harap Putri, seolah memberi sinyal bahwa pembangunan tak harus selalu menunggu proyek APBN turun dari langit.
Kepala DLH Garut, Jujun Juansyah, memuji masyarakat yang mampu mengubah residu jadi karya artistik. “Ini residu, tapi punya nilai seni,” katanya. Sebuah kalimat yang terdengar indah dan jarang dipakai untuk menggambarkan tumpukan sampah plastik.
Sementara itu, Tini Martini dari DLH menambahkan bahwa proses membangun Bank Sampah butuh waktu enam bulan. Bukan karena birokrasi berbelit, tapi karena pendampingan dan edukasi masyarakat dilakukan secara konsisten. Program “Kangraling” menjadi payungnya, sebuah jargon yang terdengar seperti plesetan “kang ngaler-ngidul” tapi sebenarnya berarti Kampung Ramah Lingkungan.
Di banyak tempat, “bank” adalah tempat uang menguap lewat potongan biaya admin. Di Garut, bank kini menjadi tempat sampah berubah jadi nilai. Ironisnya, program kecil seperti ini sering lebih berdampak nyata dibanding megaproyek penataan kota yang anggarannya menguap tanpa jejak.(Nuroni)