Proyek yang menelan biaya Rp98 juta itu diharapkan dapat menunjang mobilitas warga dan mendorong aktivitas ekonomi meski ketebalannya mungkin tidak cukup untuk dilewati truk bertonase besar.
“Kami berharap masyarakat ikut menjaga. Jalan ini kalau dirawat, bisa lebih lama. Kalau tidak, ya kembali seperti sebelumnya,” ujar Edi, menyerahkan masa depan hotmix setebal 3 sentimeter itu sepenuhnya pada kaki motor warga.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang telah mengucurkan anggaran.
“Ini bentuk nyata perhatian kepada masyarakat. Infrastruktur jalan itu penting untuk menumbuhkan perekonomian,” ujarnya.
Di Karangmulya, pembangunan jalan 220 meter mungkin bukan lompatan besar bagi peradaban, tapi setidaknya cukup untuk memberikan warga alasan baru merayakan perubahan walau tipis.*****