"Galeri ini menjadi bukti nyata bahwa Bandung terus menjadi ibu kota solidaritas Asia Afrika dan berkontribusi positif terhadap penguatan soft power diplomasi Indonesia," tambah Noviasari.
Sinergi Pusat dan Daerah: Dari Pelestarian Sejarah ke Aksi Nyata
Keberadaan Museum Konferensi Asia Afrika sejak 1980 disebutkannya sebagai contoh nyata sinergi yang kuat antara pemerintah pusat dan Kota Bandung. Sinergi ini tidak hanya dalam menjaga komitmen sejarah, tetapi juga dalam membangun masa depan kerja sama Asia-Afrika yang lebih aplikatif.
Kemenlu menaruh harapan besar agar BAACN Gallery tidak sekadar menjadi simbol, melainkan berfungsi sebagai ruang kolaborasi yang melahirkan kemitraan konkret antar kota.
"Kami berharap galeri ini dapat memunculkan inovasi dan kerja sama nyata, misalnya dalam ekonomi kreatif maupun sister city, untuk mendukung pertumbuhan Asia Afrika yang inklusif dan berkelanjutan," ujar Noviasari.
Harapan Kemenlu ini sejalan dengan pesan yang disampaikan para pemimpin Asia-Afrika pada peringatan KAA 1995, yang menginginkan Bandung menjadi "mercusuar" bagi kemajuan kedua kawasan.
Sebagai penutup, Noviasari mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersinergi. "Mari kita perkuat kerja sama dan menjadikan diplomasi perkotaan sebagai kekuatan baru dalam menghadapi tantangan global, demi kemajuan bangsa-bangsa Asia Afrika," tutupnya.
Ajakan ini menegaskan bahwa dalam tata kelola global yang semakin kompleks, diplomasi kota (city diplomacy) telah menjadi instrumen yang tidak bisa diabaikan, dan Bandung, dengan segudang inisiatifnya, bertekad untuk berada di garda terdepan. (**)