"Karena gini saya bilang, kalau kita gagal memperbaiki, nanti 16.000 orang pegawai Bea Cukai dirumahkan," ucap Purbaya, menggambarkan skenario terburuk yang sengaja dihadirkan untuk mengguncang zona nyaman. Ia, bagaimanapun, tetap menyisipkan keyakinan, "Orang Bea Cukai pintar-pintar dan siap untuk mengubah keadaan."
Perang Melawan Penyelewengan dengan Senjata Digital
Di tengah atmosfer ketakutan yang sengaja diciptakan, Purbaya mengklaim semangat perbaikan telah bangkit. Senjata utama dalam pertarungan melawan praktik under-invoicing dan pungli ini adalah percepatan transformasi digital.
"Kita sudah mulai terapkan AI-AI di stasiun-stasiun Bea Cukai, jadi nanti under invoicing akan cepat terdeteksi sambil kita perbaiki yang lain," paparnya, menggambarkan upaya ofensif dengan teknologi mutakhir untuk membersihkan institusi dari dalam.
Dengan tenggat waktu yang terus menyusut, pertarungan untuk memulihkan kepercayaan dan integritas DJBC kini bagaikan lomba melawan waktu. Apakah ancaman yang dramatis ini akan berujung pada kebangkitan institusi, atau justru menjadi episode kedua dari pembekuan yang pernah memalukan itu? Hanya satu tahun yang akan menjawabnya. (**)