Setelah selesai, flyover ini dijanjikan akan:
- Memperlebar kapasitas jalan dari 4 menjadi 6 lajur
- Menghilangkan perlintasan sebidang dengan rel kereta
- Mengurangi angka kecelakaan di kawasan persimpangan
- Mempercepat arus lalu lintas menuju Jalan Dr. Abdulrachman Saleh dan Jalan Garuda
Namun, di balik optimisme pemerintah, sejumlah pertanyaan kritis mengemuka. Beberapa warga yang diwawancarai menyatakan keraguan akan ketepatan waktu penyelesaian proyek.
“Sudah biasa janji selesai akhir tahun, tapi lihat saja nanti,” ujar Andi, sopang angkot yang sudah 10 tahun melintasi kawasan Andir.
Progres 65%: Angka atau Realita?
Meski laporan resmi menyebut progres 65%, pantauan lapangan menunjukkan beberapa tantangan yang masih dihadapi:
- Masih adanya proses pembangunan pondasi di beberapa titik
- Pekerjaan pemasangan rangka baja yang membutuhkan presisi tinggi
- Faktor cuaca yang tidak menentu
- Koordinasi dengan pihak kereta api terkait pembangunan di atas rel
“Kami bekerja tiga shift untuk memastikan target tercapai,” tukas seorang mandor proyek yang sedang beristirahat sejenak.
Menanti Akhir 2025: Janji atau Fiksi?
Dengan klaim percepatan pengerjaan yang kini disebut mencapai 70%, proyek ini memang semakin mendekati garis finish. Namun, sejarah panjang proyek infrastruktur di Indonesia mengajarkan kita untuk tidak terlalu cepat bertepuk tangan.