ragam

Dari Nikel ke Kelapa: Morowels Memanggil "Si Naga" untuk Garap Kebun Nusantara

Kamis, 4 Desember 2025 | 13:05 WIB


Investor China Gencar Bangun Pabrik Kelapa di Morowali, Nilai Rp 1,6 Triliun dan Target Serap 10.000 Pekerja





[locusonline.co, JAKARTA] – Gelombang investasi China di bumi Morowali, Sulawesi Tengah, kini tak hanya menerpa tambang dan smelter nikel. Geliat itu merambah ke sektor perkebunan, mengubah lahan hijau menjadi pusat industri hilir baru. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, secara resmi mengumumkan injeksi dana segar senilai Rp 1,6 triliun dari investor China untuk membangun pabrik pengolahan kelapa terintegrasi.





Proyek raksasa yang ditargetkan groundbreaking pada 2026 ini diklaim bakal menyerap 10.000 tenaga kerja lokal dan mengolah tidak kurang dari 500 juta butir kelapa setiap tahunnya, mengubah lanskap ekonomi regional secara dramatis.





Shift Strategis: Hilirisasi Merambah ke Sektor Agraris





Dalam rapat kerja intensif dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Selasa (2/12/2025), Rosan menegaskan komitmen pemerintah untuk memperluas cakupan hilirisasi.





"Hilirisasi tidak hanya berkonsentrasi di mineral, tapi juga di perkebunan, agrikultur, dan juga kelautan," tegas Rosan, seperti dikutip dari pernyataan resmi. "Saya contohkan sedikit di bidang perkebunan, yaitu di kelapa, kita juga sudah mulai di kelapa, di daerah Morowali."





Pengumuman ini menandai babak baru strategi ekonomi Indonesia, di mana Morowali—yang identik dengan industri baja dan nikel—kini juga diproyeksikan menjadi hub agro-industri berteknologi tinggi.





Investor Utama: Raksasa Pengolahan Kelapa dari Zhejiang





Motor penggerak investasi senilai USD 100 juta ini adalah Zhejiang FreeNow Food Co. Ltd, produsen turunan kelapa terbesar di China yang telah memiliki enam pabrik di negaranya. Perusahaan ini tidak datang sendirian, melainkan membentuk konsorsium strategis dengan mitra lokal Indonesia dan China lainnya.





"Sebelumnya mereka hanya membeli kelapa mentah dari Indonesia untuk diolah di China," ujar Rosan, mengungkap strategi negosiasinya. "Saya melihat peluang. Dengan memproses di sini, biaya logistik yang besar bisa dihemat. Akhirnya mereka memutuskan berinvestasi langsung di sumber bahan baku."


Halaman:

Tags

Terkini