"Beban terbesar, yakni biaya masuk atau import cost, dapat diminimalkan karena kendaraan akan diproduksi langsung di Subang," ujarnya.
Dengan memproduksi di dalam negeri, VinFast tidak hanya berpotensi menekan harga jual kendaraannya tetapi juga memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), yang menjadi kunci dalam jangka panjang untuk bersaing di pasar Indonesia dan regional.
Progress Pembangunan dan Rencana Peresmian
Pembangunan pabrik yang terletak di Km 110, Subang ini telah menunjukkan progress yang signifikan. Pada tahap pertama, VinFast akan mengoperasikan area seluas sekitar 9 hektare, yang mencakup fasilitas produksi (manufacturing plant) dan sirkuit uji (test track).
"Progres pabrik sudah berjalan. Tim kami sudah mulai reload, dan Lead Form Manager juga sudah dikirim," tutur Kariyanto mengenai kesiapan sumber daya manusia.
Mengenai waktu peresmian, Kariyanto menyebut bahwa acara tersebut akan segera dilaksanakan. “Peresmian ini tidak akan lama lagi. Rekan-rekan dari Bandung akan kami undang. Tanggalnya segera kami umumkan sebelum libur akhir tahun,” janjinya.
Dampak Ekonomi dan Posisi Strategis Pabrik Subang
Pabrik tahap pertama ini diproyeksikan dapat menyerap sekitar 1.000 tenaga kerja langsung di berbagai lini, mulai dari produksi, quality control, hingga logistik. Keberadaan pabrik ini diharapkan dapat memicu efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian lokal Subang dan Jawa Barat.
Secara strategis, pabrik VinFast di Subang tidak hanya dimaksudkan untuk melayani pasar domestik Indonesia, tetapi juga berperan sebagai basis produksi dan ekspor untuk kawasan regional Asia Tenggara. Langkah ini sejalan dengan visi pemerintah Indonesia untuk menjadi hub produksi kendaraan listrik di kawasan.
Konteks: Evaluasi Insentif Kendaraan Listrik Nasional
Komitmen VinFast ini disampaikan dalam momen krusial, dimana pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian Perindustrian tengah melakukan komprehensif evaluasi terhadap skema insentif kendaraan listrik. Evaluasi ini bertujuan untuk mengoptimalkan dampak kebijakan, memastikan keberlanjutan fiskal, dan mendorong investasi riil serta transfer teknologi, tidak hanya perakitan akhir.