ragam

Golkar 61 Tahun Antara Doa, Pantun, dan Panggung Kekuasaan

Minggu, 7 Desember 2025 | 12:39 WIB
Puncak Hari Ulang Tahun (HUT) Partai Golongan Karya (Golkar) ke-61 dengan tema


LOCUSONLINE, PURWAKARTA – Perayaan puncak Hari Ulang Tahun (HUT) Partai Golkar ke-61 dengan tema “Golkar Solid Indonesia Maju” digelar serentak di seluruh Indonesia, termasuk Purwakarta, Jumat malam (5/12/2025). Agenda doa untuk bangsa menjadi menu utama, dibalut seremoni yang dihadiri jajaran elit politik hingga pejabat negara.





Sekretaris DPD Golkar Purwakarta sekaligus Wakil Ketua I DPRD Purwakarta, Dias Rukmana Praja, menyampaikan bahwa doa bersama dipimpin Ustad Amaludin, Ketua Majelis Dakwah Islamiyah (MDI), bertempat di Sekretariat DPD Golkar Purwakarta, Jalan Veteran.





Hujan deras yang membasahi Purwakarta tak mengurangi khidmat rangkaian doa, juga tak menyurutkan antusiasme kehadiran para kader, anggota legislatif, dan sayap partai. Termasuk anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Dapil 10, Hj. Sri Rahayu Agustina, dan jajaran legislator Golkar Purwakarta.






Baca Juga : Bencana Dulu! Baru Pemkab Garut Sibuk Bentuk TIM






Di layar nasional, panggung Golkar di Istora Senayan bertabur kekuasaan. Ketua Umum Bahlil Lahadalia tampil mempromosikan program pemerintah sembari menegaskan arah partai dalam mengawal pembangunan. Presiden Prabowo Subianto bahkan mengakhiri sambutan dengan tiga pantun pujian, lengkap dengan diksi beringin heroik, semangat tak luntur, dan “kulit hitam giginya putih.”





Malam itu, panggung ulang tahun Golkar bukan sekadar syukuran tapi juga deklarasi simbolis, Golkar tetap jantung dalam orbit kekuasaan. Kehadiran Wakil Presiden Gibran, jajaran menteri Kabinet Merah Putih, hingga elite legislatif menjadi pesan tegas bahwa beringin tidak sekadar rindang ia menaungi kembali pusat gravitasi politik nasional.





Sebuah ulang tahun politik yang kembali mengingatkan publik bahwa pohon beringin tidak tumbang tanpa berita, dan tidak berulang tahun tanpa pejabat negara datang rombongan. Doa dilafalkan, pantun dibacakan, pujian ditebar, visi disahkan. Seluruh simbol kekuasaan terpasang rapi, seolah menegaskan "Indonesia bersatu, asalkan beringin tetap teduh dan akarnya menyentuh anggaran pembangunan".


Halaman:

Tags

Terkini