- Beban Kerja Kader: Kader Posyandu yang selama ini relawan, kini harus menangani isu yang jauh lebih kompleks seperti masalah kamtibmas dan administrasi perumahan. Apakah akan ada pelatihan dan insentif yang memadai?
- Koordinasi Antar OPD: Posyandu harus berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, PU, Perumahan, Satpol PP, dan Dinsos. Mekanisme koordinasi dan alur aduan yang jelas mutlak diperlukan.
- Anggaran yang Tepat Sasaran: Farhan sendiri mengingatkan agar perencanaan anggaran matang. "Transformasi membutuhkan konsistensi. Kita harus bekerja keras bersama kader Posyandu untuk mewujudkan layanan 6 SPM secara nyata," ujarnya.
:: Mimpi Besar yang Perlu Diperkuat dengan Detail
Transformasi Posyandu Bandung adalah visi yang progresif dan tepat sasaran, karena langsung menjawab masalah harian warga seperti stunting, air kotor, dan keamanan lingkungan. Keberhasilan program nasional di bidang kesehatan melalui Posyandu menjadi bukti bahwa model komunitas ini efektif.
Namun, untuk bidang-bidang baru yang sarat dengan aspek teknis dan administratif, keberhasilan sangat bergantung pada dukungan anggaran berkelanjutan, pelatihan kader intensif, dan sistem pendataan terdigitalisasi. Jika detail implementasi ini tidak diperkuat, Posyandu berisiko hanya menjadi "tempat pelaporan" tambahan tanpa solusi nyata.
Januari 2026 akan menjadi awal sejarah baru. Posyandu tidak lagi sekadar "pos", tetapi diharapkan menjadi "otak" dan "jantung" dari penyelesaian masalah warga di tingkat akar rumput. (**)