“Dakwaan akan menguraikan semua kejahatan Nadiem Makarim dan kawan-kawan,” tegasnya.
Kalimat itu terdengar seperti rilis trailer film investigasi, berbasis bukti penuh pembacaan detail dan siap bikin publik mengulang pertanyaan lama, “Laptop kemarin itu sebenarnya untuk belajar atau untuk lelang jabatan elektronik?”
Setelah bertahun-tahun mendengar jargon, “kelas masa depan,” “ekosistem digital,” “inovasi pembelajaran berbasis cloud,”
Faktanya kelas digital justru terseret ke ruang sidang paling analog dalam urusan pengadilan, ruang Tipikor. Digitalisasi ditegakkan, anggarannya melayang, terdakwanya melenggang, buronnya menghilang.
Kasus Chromebook bukan hanya soal perangkat, tapi soal bagaimana ambisi modernisasi akhirnya tersangkut pada kabel listrik pengadaan. Revolusi digital dijanjikan untuk murid, tapi yang menikmati duluan justru auditor.