Intinya, pupuk tetap subsidi, proses tetap resmi, harga tetap HET. Drama hanya muncul ketika petani ingin layanan antar tapi menolak bayar ongkos. Dunia pertanian memang harus efisien, tapi sopir angkut pun punya perut yang harus diisi.
Di tengah kisruh isu pupuk yang kerap dipolitisasi, Kios Sahabat Tani hadir sebagai anomali: tunduk regulasi, rapi administrasi, dan tidak berminat ikut kompetisi “siapa paling mahal”.
Di Kadungora, ternyata masih ada kios yang tak ingin viral karena markup, cukup viral karena taat aturan.*****