- Mekanisme Pengawasan SDM yang Bolong: Tidak adanya sistem yang memastikan kesiapan fisik dan mental pengemudi, terutama pengganti.
- Prioritas yang Terbalik: Kecepatan distribusi seolah menjadi panglima, mengabaikan prinsip keselamatan yang paling dasar.
- Akuntabilitas yang Kabur: Tanggung jawab seolah berhenti di pangkuan sopir, tanpa meninjau ulang rantai komando dan pengawasan di atasnya.
Mobil itu mungkin sudah ditarik dari lapangan sekolah, pagar sudah diperbaiki, dan lapangan dicat ulang. Namun, lukanya lebih dalam dari itu. Ia meninggalkan trauma pada anak-anak, dan yang lebih berbahaya, rasa aman yang terkoyak. Jika evaluasi hanya berhenti pada "salah injak pedal", maka kita sedang membiarkan "mobil-mobil" kelalaian sistemik berikutnya tetap berada di jalannya, bersiap menerobos pagar keamanan lain. (**)