[Locusonline.co, BANDUNG] — Proyek yang diharapkan menjadi penawar rasa frustasi warga Bandung Raya terhadap kemacetan kronis akhirnya menunjukkan titik terang. Flyover Nurtanio, yang membentang di atas perlintasan kereta api, diklaim akan beroperasi penuh pada akhir tahun 2025 ini. Klaim ini disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko PPN/Kepala Bappenas), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), setelah meninjau lokasi proyek bersama Wali Kota Bandung Muhammad Farhan dan Dirjen Bina Marga Kementerian PUPR, Roy Rizali Anwar, pada Jumat (12/12/2025).
Namun, di balik janji penyelesaian, terselip pertanyaan tentang koordinasi dan kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah, terutama menyangkut momentum pembukaan flyover yang masih digantungkan pada kata "jika" dan "upayakan".
Angka dan Janji: Rp62 Miliar untuk Mengurai Kemacetan "Titik Setan"
AHY menjelaskan bahwa flyover ini dibangun dengan anggaran sekitar Rp62 miliar. Strukturnya memiliki panjang konstruksi 90 meter dengan tiga bentang (25m, 40m, 25m), dan lebar jalur efektif 10,5 meter.
"Selama ini kita merasakan kemacetan yang berdampak pada transportasi masyarakat dan distribusi barang dan jasa. Kemacetan ini dipicu perlintasan kereta, baik Bandung Raya maupun feeder KCJB jalur Padalarang–Bandung," ungkap AHY.
Flyover ini diharapkan menjadi solusi utama bagi kemacetan di "titik setan" persimpangan rel kereta api, yang selama ini menjadi bottleneck lalu lintas. Manfaatnya diproyeksikan ganda: memperlancar arus kendaraan sekaligus mengefisienkan operasional kereta api dengan mempersingkat headway (jarak antar-jadwal) dari 15 menit menjadi lebih cepat.
Dua Wajah Optimisme: Antara Kehati-hatian Pusat dan Ambisi Daerah
Respons kedua pemimpin terhadap waktu operasional flyover menunjukkan perbedaan nuansa yang menarik.
Di satu sisi, AHY menekankan prinsip kehati-hatian. Saat ditanya kemungkinan pembukaan saat Nataru (Natal dan Tahun Baru), ia menyatakan: