ragam

Pergeseran Tanah, Terkubur Janji: Deretan Bencana yang Menguak Siklus Respons Reaktif di Kabupaten Bandung

Sabtu, 13 Desember 2025 | 07:42 WIB



Dalam kondisi darurat, logistik dan evakuasi menjadi prioritas. BPBD Kabupaten Bandung bersama tim gabungan mendirikan posko bantuan dan mengoordinasikan distribusi bantuan ke wilayah-wilayah yang aksesnya terputus, seperti Baleendah. Namun, pertanyaan kritis yang menggantung adalah: ke manakah alokasi anggaran mitigasi dan normalisasi sungai yang seharusnya menjadi prioritas pencegahan, jauh sebelum status darurat diperlukan?





Longsor Arjasari: Peringatan yang (Kembali) Diabaikan?





Tragedi di Kampung Condong, Arjasari, adalah potret sempurna dari kegagalan mitigasi jangka panjang. Longsor yang menewaskan warga ini dipicu oleh curah hujan tinggi yang mengguyur daerah dengan lereng labil. Wilayah seperti Arjasari, Kertasari, Pasirjambu, dan Ciwidey, yang masuk dalam kawasan perbukitan dan pegunungan, sebenarnya telah lama diketahui memiliki risiko tinggi.





Meski pencarian korban di Arjasari terpaksa dihentikan demi keselamatan petugas, Bupati Dadang menegaskan bahwa penanganan bencana ini berjalan beriringan dengan evaluasi tata ruang dan penghentian sementara izin pembangunan baru di kawasan rawan bencana. Langkah ini, meski penting, kembali terasa seperti respons setelah fakta—sebuah upaya menutup keran setelah ember penuh meluap.





Siklus yang Tak Kunjung Putus: Dari Pentahelix ke Doa Bersama





Rangkaian peristiwa ini mengukuhkan sebuah siklus yang akrab di telinga publik: kekhawatiran -> pernyataan rencana strategis (seperti pentahelix Rp 9 miliar) -> bencana terjadi -> penetapan status tanggap darurat -> penanganan darurat -> pernyataan evaluasi -> kekhawatiran baru. Siklus ini berputar tanpa pernah benar-benar memutus mata rantai penyebabnya: tata ruang yang lemah, ketidaktegasan terhadap pelanggaran di daerah resapan, dan investasi mitigasi yang kalah prioritas dibandingkan proyek-proyek lain.





Doa bersama yang digelar Bupati dan jajarannya adalah ekspresi spiritual yang patut dihargai. Namun, bagi warga yang rumahnya masih terendam atau keluarga yang kehilangan sanak saudara tertimbun tanah, yang mereka tunggu bukan hanya perlindungan dari langit, tetapi juga kebijakan yang konkret, berkelanjutan, dan berani dari pemerintah bumi. Mereka menanti janji “penanganan bertahap dan berkelanjutan” di Kelurahan Gumuruh dan wilayah lain, tak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar terejawantah, sebelum doa bersama berikutnya diperlukan. (**)


Halaman:

Tags

Terkini