[Locusonline.co, BANDUNG] — Jalanan di kawasan kampus ITB yang rindang dan sejuk pada Minggu (14/12) pagi bukan hanya menjadi latar biasa. Ia adalah panggung strategis bagi Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, untuk menegaskan komitmen baru kotanya: menjadi raja baru sport tourism atau pariwisata olahraga di Indonesia. "Kita menikmati lari di kota paling ‘enakeun’ untuk para pelari," ujar Farhan di sela-sela Bandung Heritage Green Fair 2025. Pernyataan itu bukan sekadar pemanis kata, melainkan sinyal dimulainya era di mana setiap garis finis lomba lari dan sorak-sorai penonton olahraga diarahkan untuk menggerakkan roda ekonomi lokal.
Komitmen ini muncul di saat yang tepat. Data menunjukkan, hingga Triwulan III 2025, Bandung telah diserbu 6,5 juta wisatawan, dengan target akhir tahun mencapai 8,7 juta kunjungan. Meski kuliner masih jadi magnet utama, Farhan yakin olahraga adalah mesin pendorong berikutnya. "Event olahraga tidak hanya sebatas menyehatkan jasmani masyarakat saja, tetapi bisa mengembangkan geliat perekonomian Kota Bandung," tegasnya.
Mengapa Olahraga Jadi Andalan Baru?
Perhitungan Farhan berlandaskan pada tren global dan keberhasilan nyata. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyebut, sport tourism menyumbang 10% dari total belanja wisata global dan diproyeksikan melesat hingga 17% pada 2030. Artinya, orang rela merogoh kocek dalam-dalam untuk perjalanan yang dikaitkan dengan acara olahraga. Riset dari Expedia mengungkap, 44% pelancong bersedia terbang ke luar negeri demi menghadiri event olahraga, dengan pengeluaran rata-rata US$1.500 atau sekitar Rp25 juta per trip.
Bandung punya modal kuat untuk meraih kue besar ini. Selain udara sejuk dan pemandangan "kota taman" yang ideal untuk lari atau sepeda, kota ini memiliki aset ikonik: Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Pemerintah pusat secara resmi mencanangkan GBLA untuk dikembangkan menjadi destinasi sport tourism kelas dunia, menyusul contoh sukses seperti Anfield Stadium di Liverpool yang menarik ratusan ribu pengunjung lewat tur stadion. Ini adalah landasan untuk menjadikan sepak bola, olahraga dengan basis penggemar terbesar di Indonesia, sebagai magnet wisata sepanjang tahun.
Peta Strategi: Kolaborasi, Sejarah, dan Dampak Ekonomi
Langkah Bandung ke depan tidak lagi sekadar mengadakan acara, tetapi membangun ekosistem. Berikut adalah tiga pilar utama strateginya:
| Pilar Strategi | Contoh Implementasi & Sasaran | Dampak yang Diharapkan |
|---|---|---|
| Kolaborasi Pentahelix | Sinergi pusat-daerah, kemitraan dengan swasta (eL Hotel), dan melibatkan komunitas olahraga. | Event berkelanjutan, pembiayaan solid, dan promosi yang masif. |
| Kearifan Lokal & Sejarah | Menghidupkan narasi sejarah (Soekarno Run) dan memanfaatkan keindahan alam kota. | Membangun diferensiasi dan pengalaman wisata yang unik, tak terlupakan. |
| Dampak Ekonomi Inklusif | Menggerakkan sektor akomodasi, kuliner, transportasi, dan UMKM di sekitar venue event. | Peningkatan pendapatan daerah dan penyerapan tenaga kerja yang luas. |
Kolaborasi menjadi kata kunci. Farhan tidak bisa bekerja sendirian. Ia menyoroti pentingnya kerja sama erat antara Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk menciptakan kota yang ramah event. Ini sejalan dengan seruan Menteri Pariwisata agar pemerintah daerah bersinergi menyusun roadmap dan menarik investasi swasta untuk memperkuat ekosistem.
Selain itu, Bandung memilih untuk tidak menjadi penyelenggara acara olahraga yang biasa-biasa saja. Kota ini menyematkan "jiwa" pada setiap event. Soekarno Run 2025 adalah contoh brilian: ribuan pelari menelusuri rute sarat sejarah sambil merasakan napas perjuangan Bung Karno. Farhan menyebut event seperti ini "membangun kebanggaan kolektif" sekaligus menggerakkan ekonomi.