[Locusonline.co] Jawa Barat selama ini identik dengan lanskap hijau perkebunan teh di Puncak, Ciwidey, atau dataran tinggi Priangan. Provinsi ini juga kerap diposisikan sebagai motor ekonomi kreatif nasional. Namun di balik citra tersebut, satu komoditas lain tumbuh diam-diam dan kini menunjukkan skala yang tak bisa lagi diabaikan: kelapa sawit.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat tahun 2024 mencatat total luas perkebunan kelapa sawit di provinsi ini mencapai 158,54 kilometer persegi. Angka ini bukan sekadar statistik—luas tersebut hampir menyamai wilayah Kota Bandung yang tercatat sekitar 166,59 kilometer persegi.
Perbandingan ini menempatkan sawit bukan lagi sebagai komoditas pinggiran di Jawa Barat. Ia telah menjelma menjadi kekuatan agraria dengan skala setara satu kota besar.
Sawit Bukan Sekadar Angka, Tapi Ruang Hidup
Lahan sawit di Jawa Barat mencakup beragam status kepemilikan: perkebunan besar milik negara, swasta, hingga perkebunan rakyat yang dikelola secara mandiri. Tipisnya selisih luas antara kebun sawit dan Kota Bandung menjadi indikator jelas bahwa ekspansi sawit telah menyentuh batas-batas kewajaran tata ruang di provinsi dengan wilayah relatif sempit ini.
Ironisnya, Jawa Barat bukanlah daerah yang secara ekologis dirancang untuk industri sawit berskala masif. Namun data menunjukkan, ekspansi tetap terjadi—perlahan, nyaris tanpa sorotan.
Data Produksi dan Sebaran Sawit di Jawa Barat
Meski luasnya meningkat, secara proporsi luas sawit hanya sekitar 0.4% dari total daratan Jawa Barat.
Respons dan Implementasi di Tingkat Daerah