Jalan Panjang Menuju Pengelolaan Ideal
Meski strategi telah dirancang, jalan menuju pengelolaan sampah berkelanjutan di Bandung masih panjang. Beberapa tantangan dan wacana yang muncul adalah:
- Anggaran vs. Realita: Usulan anggaran tambahan Rp90 miliar masih dalam proses persetujuan, sementara ancaman krisis sudah di depan mata.
- Sinergi Regional: Persoalan TPA Sarimukti yang menjadi andalan Bandung Raya membutuhkan koordinasi erat dengan Kota Cimahi dan pemerintah provinsi, seperti yang telah dirintis dalam rakor sebelumnya.
- Budaya Baru di Level Rumah Tangga: Program kewilayahan mustahil berhasil tanpa perubahan perilaku di sumber utama sampah. Sekda Jabar pernah mendorong konsep “zero food waste” dan pemilahan sejak dari rumah.
- Penegakan Aturan dan Apresiasi: Dalam debat pilkada 2024, calon wakil wali kota Yena Iskandar Ma'soem menekankan pentingnya memberi apresiasi kepada pengolah sampah sebagai pemancing partisipasi warga, di samping penegakan Perda yang ada.
Menjaga Kota dari Dua Sisi
Selain sampah, Iskandar juga menyoroti penanganan dua isu lain yang berkaitan dengan ketertiban dan citra kota. Ia meminta aparat kewilayahan aktif memantau dan menangani tunawisma yang menguasai trotoar dan badan jalan, terutama di kawasan pusat kota yang menjadi etalase Bandung. Penanganan yang terencana dan berkelanjutan bersama Dinas Sosial dan Kesehatan dinilai penting untuk menjaga ketertiban umum dan kenyamanan wisatawan.
Dengan langkah-langkah tersebut, Pemerintah Kota Bandung berharap dapat mengubah tantangan sampah yang akut menjadi momentum menuju tata kelola lingkungan yang lebih mandiri, bertanggung jawab, dan berkelanjutan. (**)