Filosofi "Beyond Commercial": Keselamatan dan Citra sebagai Prioritas Utama
Mahyudin menekankan bahwa keberhasilan program di Bandung diukur bukan dari keuntungan finansial, melainkan dari dampak sosial dan keamanan.
"Pemerintah Kota Bandung mengesampingkan dulu sisi komersial. Ada hal yang lebih penting, yakni keamanan masyarakat dan keindahan kota," tegasnya. Insiden kecelakaan lalu lintas akibat kabel menjuntai menjadi titik balik yang mendorong kebijakan ini.
Dukungan masyarakat ternyata luar biasa. Salah satu unggahan dokumentasi penurunan kabel di media sosial bahkan meraih lebih dari 4 juta penayangan, mengalahkan jumlah penduduk Kota Bandung sendiri yang sekitar 2,6 juta jiwa. "Ini menunjukkan bahwa masyarakat sangat mendukung. Penurunan kabel menjadi cara efektif membangun citra positif pemerintah," tambah Mahyudin.
Rencana dan Tantangan Cirebon: Belajar dari Pengalaman Bandung
Kunjungan ini merupakan bagian dari langkah sistematis Pemkot Cirebon yang telah mengumumkan rencana penataan kabel bawah tanah sejak awal Januari 2026. Fokus awal adalah pada 15 hingga 17 ruas jalan strategis dengan total panjang sekitar 15 kilometer, di antaranya Jalan Kartini, Tuparev, dan Siliwangi.
Cirebon juga ingin mempelajari respons asosiasi operator dan tantangan di lapangan. Kepala BPKPD Kota Cirebon, Mastara, menyatakan, "Kami sepakat jangan dulu berpikir komersialisasi. Yang utama adalah multiplier effect-nya. Tapi kami juga ingin tahu hambatan apa saja yang dihadapi Bandung agar bisa kami antisipasi."
Tantangan teknis seperti koordinasi dengan jaringan utilitas lain (listrik PLN, air PDAM) dan kondisi jalan yang berbeda menjadi perhatian serius.
Menatap Masa Depan: Infrastruktur Digital sebagai Pondasi Kota Cerdas
Kunjungan ditutup dengan peninjauan lapangan ke ruas-ruas percontohan di kawasan Dago, yang telah berhasil "dinormalisasi". Langkah Cirebon ini mencerminkan kesadaran bahwa tata kelola infrastruktur digital yang rapi dan aman bukan lagi sekadar urusan estetika, melainkan pondasi dasar bagi pengembangan kota cerdas (smart city) dan ekonomi digital.
Dengan tingkat penetrasi internet di Bandung yang mencapai 82% – tertinggi di Indonesia – stabilitas dan keandalan jaringan menjadi prasyarat mutlak. Keberhasilan replikasi model Bandung di Cirebon akan menjadi tolok ukur penting bagi kota-kota lain di Indonesia yang tengah bergulat dengan masalah serupa, menuju wajah kota yang lebih tertata, aman, dan siap menghadapi era digital. (**)