Makna Ziarah: Menyambung Mata Rantai Sejarah dan Kepemimpinan
Rangkaian ziarah dalam peringatan HJG ke-213 ini bukan sekadar agenda seremonial. Ia adalah upaya sistematis untuk:
✅ Membangun kesadaran sejarah di kalangan birokrasi dan masyarakat
✅ Meneladani nilai-nilai kepemimpinan para pendahulu
✅ Memperkuat ikatan emosional antara pemerintah daerah dan keluarga besar mantan pemimpin
✅ Menegaskan bahwa pembangunan Garut adalah mata rantai panjang yang harus dilanjutkan tanpa putus
Bupati Abdusy Syakur menegaskan bahwa ziarah ini adalah bagian dari investasi moral bagi generasi mendatang.
"Kita tidak boleh lupa pada mereka yang telah berjuang sebelum kita. Dari mereka, kita belajar arti ketulusan, kejujuran, dan kerja keras," tutupnya.
Dua Pemimpin, Dua Warisan Abadi
| Aspek | Dede Satibi (Bupati ke-22) | Momon Gandasasmita (Bupati ke-20) |
|---|---|---|
| Periode Jabatan | 2004–2009 | 1984–1989 |
| Warisan Fisik | Kawasan Kerkof, SOR RAA Adiwijaya | Sekolah Tinggi Hukum Garut |
| Nilai Teladan | Transparansi, kejujuran | Etos kerja tanpa henti, pengabdian total |
| Lokasi Makam | Makam Keluarga KH. Mashduqi, Pananjung | Pasirlingga, Desa Jati |
Menghormati Masa Lalu, Membangun Masa Depan
Peringatan Hari Jadi Garut ke-213 tahun ini menjadi istimewa karena tidak hanya merayakan usia, tetapi merawat ingatan. Dengan menziarahi makam para pemimpin terdahulu, Pemerintah Kabupaten Garut menunjukkan bahwa pembangunan daerah tidak dimulai dari nol, tetapi berdiri di atas fondasi kokoh yang telah diletakkan para pendahulu.
Garut hari ini adalah wajah dari doa, keringat, dan air mata para pemimpin kemarin. Menghormati mereka adalah menjaga agar api perjuangan tak pernah padam.
#HJG213 #ZiarahBupatiGarut #DedeSatibi #MomonGandasasmita #MenelusuriSejarah #GarutBerbudaya #RefleksiKepemimpinan