ragam

Produksi 1 Ton Mie Berformalin per Hari, Polisi Amankan Gudang di Cilawu Garut

Jumat, 20 Februari 2026 | 15:29 WIB



Petugas Ditreskrimsus kemudian melakukan penggerebekan dan mendapati aktivitas produksi mi basah dengan campuran bahan kimia berbahaya sedang berlangsung. Di lokasi, terdapat lima karyawan yang bekerja di bawah perintah tersangka, yakni SJ, JM, L, AP, dan HH.





Pembagian tugas para pekerja cukup terstruktur:






  • JM bertugas sebagai pembuat adonan dan pemotong mi




  • L bertugas merebus mi




  • AP dan HH bertugas meniriskan mi




  • SJ melakukan pengemasan produk





Dari hasil penggeledahan, polisi menyita sejumlah barang bukti, termasuk tong air berisi campuran formalin, boraks, dan bahan kimia lain dalam jumlah besar yang siap digunakan untuk produksi.





Proses Produksi: Sistematis dan Berbahaya





Wirdhanto membeberkan proses produksi mi berbahaya ini:






  1. Pembuatan larutan – Air dicampur dengan formalin, boraks, garam, dan pewarna makanan.




  2. Pencampuran adonan – Sebanyak 25 kilogram tepung terigu dimasukkan ke mesin pengaduk, dicampur dengan larutan berbahaya, lalu diproses sekitar 10 menit hingga adonan berwarna kuning.




  3. Pencetakan – Adonan dicetak menggunakan mesin pres menjadi lembaran, lalu dipotong menjadi bentuk mi.




  4. Perebusan – Mi direbus selama kurang lebih 15 detik hingga matang.




  5. Penirisan dan pendinginan – Mi ditiriskan, diberi minyak sayur agar tidak lengket, lalu didinginkan menggunakan kipas angin.




  6. Pengemasan – Mi ditimbang masing-masing lima kilogram, lalu dikemas dalam plastik untuk dipasarkan.





Produksi Masif: Hampir 1 Ton per Hari





Dalam sehari, WK mampu memproduksi sekitar tujuh kuintal atau hampir satu ton mi basah mengandung formalin dan boraks. Jika dirinci, setiap satu kilogram mi dapat menjadi sekitar 10 porsi. Artinya, produksi harian mencapai 7.000 hingga 8.000 porsi, atau sekitar 210.000 porsi per bulan.





Dari bisnis ilegal ini, tersangka meraup keuntungan sekitar Rp600.000 hingga Rp700.000 per hari, atau sekitar Rp21 juta per bulan. Selama sembilan bulan beroperasi (sejak Juli 2025 hingga Februari 2026), total keuntungan yang diraup diperkirakan mendekati Rp200 juta.

Halaman:

Tags

Terkini