Pernyataan ini menggema kuat di tengah situasi kebangsaan yang kadang diuji oleh isu-isu SARA. Garut, melalui kepemimpinan Bupati Abdusy Syakur, ingin menunjukkan bahwa keragaman adalah kekuatan, bukan kelemahan.
Cap Go Meh: Lebih dari Sekadar Lampion dan Hidangan Lezat
Wakil Ketua Vihara Dharma Loka Garut, Erwindi Ramali, menjelaskan bahwa perayaan Cap Go Meh tahun ini menandai puncak sekaligus penutupan rangkaian Tahun Baru Imlek 2577. Ia menekankan bahwa esensi dari Cap Go Meh melampaui sekadar tradisi lampion dan hidangan lezat.
"Cap Go Meh adalah soal persatuan untuk merayakan bersama tanpa memandang perbedaan. Kami berharap semoga hidup kita di tahun ini selalu diberi terang, kemudahan, dan bahagia yang tak terhingga," tutur Erwindi.
Pesan ini selaras dengan semangat yang terus digaungkan Pemkab Garut: kebersamaan lintas iman adalah fondasi kokoh bagi pembangunan daerah.
Ramadan dan Imlek: Simbol Harmoni Nusantara
Tahun 2026 memberikan pemandangan langka sekaligus indah: perayaan Cap Go Meh berlangsung di tengah bulan suci Ramadan. Di Vihara Dharma Loka, lampion Imlek bersanding dengan nuansa Ramadan yang khusyuk. Di masjid-masjid, umat Islam menjalankan ibadah puasa sambil mendoakan saudara-saudara mereka yang merayakan Imlek.
| Momen | Makna |
|---|---|
| Imlek 2577 | Perayaan syukur dan harapan baru |
| Ramadan 1447 H | Bulan pensucian diri dan peningkatan takwa |
| Kebersamaan | Bukti nyata toleransi ala Indonesia |
Ajakan Menutup Imlek dengan Semangat Baru
Di akhir sambutannya, Erwindi mengajak seluruh jemaat dan tamu undangan untuk menutup perayaan Imlek dengan semangat baru dan optimisme tinggi. Perayaan Cap Go Meh menjadi momentum untuk melepas segala hal buruk di tahun lalu dan menyambut masa depan dengan hati yang bersih.
Bupati Abdusy Syakur pun menyampaikan harapan serupa:
"Mari kita jadikan perbedaan ini sebagai pelangi yang memperindah NKRI. Dengan semangat Cap Go Meh dan keberkahan Ramadan, saya yakin Garut akan semakin maju, harmonis, dan bermartabat."