ragam

Saham BBCA Ambruk Tembus Rp6.950, Terseret Perang dan Aksi Jual Asing Masif

Rabu, 4 Maret 2026 | 16:36 WIB



IHSG Terjun Bebas, Sentimen Global dan Domestik Jadi Biang Kerok





Pelemahan BBCA terjadi di tengah kehancuran Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang semakin dalam. Pada penutupan sesi I siang ini, IHSG ambles 343,20 poin atau 4,32% ke level 7.596,57 . Sebanyak 748 saham tercatat melemah, sementara hanya 68 saham yang mampu bertahan di zona hijau .





Faktor Global: Perang dan Harga Minyak Melonjak





Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy, menjelaskan bahwa tekanan di pasar saham Indonesia sejalan dengan pelemahan tajam di bursa regional lainnya, seperti Kospi, SET, Nikkei, hingga ASX. Bahkan, bursa Korea Selatan sempat menghentikan sementara perdagangan (trading halt) setelah indeksnya ambrol lebih dari 8% .





Penyebab utamanya adalah eskalasi konflik di Timur Tengah yang semakin memanas. Iran dilaporkan menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia, memicu kekhawatiran krisis energi global . Akibatnya, harga minyak mentah dunia melonjak tajam. Minyak Brent menembus US$81 per barel, sementara WTI berada di atas US$74 per barel .





Faktor Domestik: Kejutan Transparansi Saham





Di dalam negeri, volatilitas pasar juga dipicu oleh kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mulai membuka data pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1% . Tim riset Maybank Sekuritas menyebut langkah ini positif untuk transparansi jangka panjang, namun dalam jangka pendek justru memicu gejolak.





Setelah data 1% dibuka, sejumlah saham yang selama ini tercatat memiliki free float besar ternyata didominasi kepemilikan individu yang sebelumnya tidak teridentifikasi. Akibatnya, free float beberapa emiten turun signifikan, berpotensi memicu aksi jual, terutama dari investor asing yang sensitif terhadap likuiditas .





Masih Ada Harapan? Valuasi Murah dan Rekomendasi Analis





Di tengah kehancuran harga, beberapa analis justru melihat peluang. KB Valbury Sekuritas dalam risetnya menyatakan bahwa tekanan jual yang terjadi membuat saham BBCA diperdagangkan pada valuasi yang lebih rendah dibandingkan periode pandemi Covid-19. Saat ini, rasio price to book value (P/B) BBCA berada di kisaran 2,7 kali, jauh di bawah target wajar 4,1 kali .





KB Valbury Sekuritas pun mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA dengan target harga Rp11.080, didukung oleh prospek penurunan biaya dana, imbal hasil kredit yang stabil, serta cadangan kerugian kredit yang terkendali .





Sementara itu, Binaartha Sekuritas merekomendasikan hold untuk BBCA dengan target harga terdekat di Rp7.525 .

Halaman:

Tags

Terkini