Dari Murid Menjadi Ustadz: Mata Rantai Kebaikan
Yang paling membanggakan bagi Tine adalah melihat para muridnya yang kemudian menjadi pengajar. Mata rantai kebaikan ini terus berputar di lingkungan Wyata Guna.
"Paling mengharukan, banyak alumni dari Sentra Wyata Guna yang sekarang menjadi ustaz dan bahkan mengajar juga di sini. Mereka menjadi penerus kami," ungkapnya penuh haru.
Perjuangan Fajar: Dari Kebingungan Menuju Kebahagiaan
Bagi Fajar, perjalanan ini penuh lika-liku. Di awal pembelajaran, ia sempat kebingungan membedakan satu huruf dengan huruf lainnya hanya melalui titik-titik timbul.
"Awal-awal paling susah mengenali hurufnya. Ini huruf apa, titiknya apa. Tapi kalau terus dilatih, lama-lama bisa," kata Fajar.
Kini, setelah bergelut selama empat bulan, ia telah mempelajari dua juz dari Surah Al-Baqarah. Baginya, bisa membaca Al-Qur'an adalah kebahagiaan yang tak ternilai.
"Dulu kalau lihat orang awas baca Al-Qur'an rasanya pengen juga bisa. Alhamdulillah sekarang sudah bisa membaca. Senang sekali, " ujarnya dengan mata berbinar (meski tak terlihat).
Cita-cita: Menjadi Penyanyi dan Pengajar
Fajar punya mimpi. Ia ingin menjadi penyanyi. Tapi di samping itu, jika kelak ia mampu menguasai Al-Qur'an Braille dengan lebih baik, ia tak menutup kemungkinan untuk menjadi pengajar, berbagi ilmu dengan teman-teman disabilitas netra lainnya.
"Kalau cita-cita, saya sebenarnya ingin jadi penyanyi. Tapi kalau bisa mengajar juga, saya ingin berbagi ilmu, " tuturnya.