Memasuki waktu Maghrib, sidang utama digelar secara tertutup. Di sinilah data hisab dan laporan rukyatul hilal dari berbagai titik di Indonesia “dipertemukan” sebuah forum yang mempertemukan sains, pengamatan lapangan, dan tentu saja, diskusi yang tidak selalu singkat.
Hasilnya dijadwalkan diumumkan oleh Menteri Agama sekitar pukul 19.25 WIB momen yang setiap tahun ditunggu publik, sekaligus menjadi “penentu resmi” kapan takbir mulai berkumandang.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, menjelaskan bahwa keputusan diambil melalui musyawarah dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, ulama, hingga pakar astronomi.
“Semua data dipertimbangkan agar keputusan yang dihasilkan bisa menjadi pedoman bersama,” ujarnya.
Berdasarkan data hisab, ijtimak atau konjungsi terjadi pada Kamis pagi sekitar pukul 08.23 WIB. Sementara saat pemantauan hilal dilakukan, posisi bulan diperkirakan sudah berada di atas ufuk, dengan ketinggian antara 0 derajat hingga sedikit di atas 3 derajat, dan elongasi berkisar antara 4 hingga 6 derajat.
Artinya, hilal sudah “hadir”, tetapi belum tentu “terlihat” sebuah kondisi yang setiap tahun berhasil memicu diskusi panjang, dari ruang sidang hingga kolom komentar.
Di tengah semua itu, pemerintah berharap masyarakat tetap menunggu keputusan resmi. Sebab dalam urusan menentukan hari raya, kesabaran tampaknya masih menjadi metode yang paling relevan di samping rukyat dan hisab.*****